Press "Enter" to skip to content

Terkini Yang Ikonik Dari Derby Della Madonnina

                                                                                           Terkini  Yang Ikonik Dari Derby della Madonnina

Ketika menyebut derby Milan, sederet kejadian ini bakal selalu terkenang. 
 

Supersoccer.co.id – Rivalitas kedua klub ini sudah tersaji dalam 213 laga resmi. Kedua klub yang mempunyai derby paling prestisius di Italia ini selalu mempunyai alasan untuk tidak dilewatkan. Secara statistik, Nerazzurri telah memenangi 76 laga, sedangkan Milan 74 laga, dan 63 sisanya berakhir dengan hasil imbang. Hampir sama kuat, dan selalu menarik untuk disimak, sebab kedua klub punya momen ikonik yang pernah terjadi dalam beberapa pertemuan.

Jika Anda ingat kejadian ikonik ini, Anda tidak seorang diri. Berikut, beberapa momen yang menciptakan derby ini pantas menyandang sebagai salah satu derby terpanas di dunia.

1. Tragedi Flare Dida

Derby della Madonnina terjadi di Champions League dua kali sepanjang sejarah. Dan salah satu dari dua laga itu, berakhir dengan kebodohan dari suporter yang tak bertanggung jawab.

Di pertemuan pertama babak perempat final Champions League 2004/2005, Milan unggul sebagai tuan rumah dengan skor 2-0. Di pertemuan kedua, Shevchenko menciptakan Milan kembali menerima keunggulan agregat sesudah mencetak gol di babak pertama. Di babak kedua, Esteban Cambiasso bisa menjebol gawang DIda, namun wasit Markus Merk dari Jerman menganulir gol tersebut.

Curva Nord yang dipenuhi oleh suporter Inter mulai menjadi tidak terkendali. Kericuhan mulai tersulut. Flare mulai tersulut, dan ada salah satu yang dilempar dari tribun penonton kemudian mengenai kepala kiper Milan, Dida. Butuh waktu cukup usang bagi pemadam untuk mematikan seluruh flare yang masuk ke stadion. Dida digantikan oleh Abbiati, namun tidak usang sesudah itu flare kembali merangsek ke dalam lapangan. Merk kemudian tetapkan untuk menunda pertandingan untuk keselamatan bersama. Dida mengalami luka bakar level satu, namun masih bisa bertanding di pertemuan selanjutnya.

2. Parade Tujuh Gol

Pasca kejadian Calciopoli, Inter dan Milan kembali bertemu dengan status sebagai dua tim terkuat di Serie-A. Pada demam isu 2006/2007 ini Inter meraih gelar juara liga, dan Milan meraih gelar Champions League ketika membalaskan dendam di final ’05 melawan Liverpool.

Di laga ini, Inter meraih keunggulan lebih dulu. Crespo dan Dejan Stankovic sudah mencetak gol di babak pertama, Ibrahimovic kemudian menambah skor menjadi 3-0 ketika babak pertama tinggal lima menit. Seeedorf bisa memperkecil ketertinggalan, sebelum balasannya Materazzi menjebol gawang Milan untuk kali keempat. Tiga menit kemudian, Matrix dikartumerah sebab menerima akumulasi kartu kuning.

Asa kembali ada untuk Rossoneri. Gilardino kemudian mencetak gol kedua pada mneit 79, dan Inter sangat beruntung sebab Julio Cesar menciptakan beberapa evakuasi penting yang menciptakan gawang Inter aman. Di perpanjangan waktu, Kaka mencetak gol namun itu menjadi gol terakhir yang terjadi di laga tersebut.

3. Hat-Trick Amadei

Pada kala ’50, skor besar bukanlah hal yang aneh. Pada pertemuan pertama di demam isu 29/50, laga panen gol juga tercipta. Di menit 20, Milan sudah unggul 4-1. Tak ingin tertinggal jauh, Inter kemudian bangun dan mencetak dua gol jelang turun minum. Amadei yang sudah mencetak satu gol di babak pertama, kemudian mencetak gol kedua dan diikuti pula oleh lesakan dari Lornezi. Tidak cukup hingga disitu, Amadei mencetak gol ketiganya lima menit kemudian. Skor final pertandingan ini yakni 6-5, dan Inter mampu membalikkan keadaan serta keluar sebagai pemenang.

4. Derby Perdana di Eropa

Tidak menyerupai pertemuan serupa yang digelar dua demam isu kemudian di Champions League, laga ini merupakan representasi kedigdayaan Serie-A pada awal 2000.

Pada semifinal Champions League 2002/2003, leg pertama Derby Milan ini dilewati tanpa sebiji gol. Namun di pertemuan kedua, Milan tampil perkasa dengan gol Shevchenko sebagai pembukanya. Obafemi Martins kemudian mencatatkan namanya di papan skor untuk Inter, namun hingga final laga hasil tidak berubah. Milan menang agregat gol ‘tandang’ dengan skor 1-1, dan menjadi jawara Eropa demam isu itu sebab menundukkan wakil Italia lainnya di final, Juventus, lewat babak laga penalti.