Press "Enter" to skip to content

Terkini Warna Balkan Mengental Di Badan I Nerazzurri

MSports.net Selama bertahun-tahun, Internazionale Milan begitu kental dengan aroma Tango. Rekam jejak pemain Argentina di skuat Inter sudah begitu panjang. Bahkan hingga ketika ini. Namun, dominasi Albiceleste di skuat Inter semakin tereduksi. Kini, Inter justru mulai berpaling dengan mengentalkan aroma Balkan.

Apa keistimewaan sepak bola Balkan? Musim 2014-15, di skuat Inter sudah bercokol sederet pemain berdarah Balkan. Samir Handanovic (Slovenia) di bawah mistar gawang, di lini belakang ada Nemanja Vidic (Serbia), dilengkapi dua penggawa timnas Kroasia di lini tengah, Mateo Kovacic dan Marcelo Brozovic. Ada pula Xherdan Shaqiri, pemain kelahiran Albania-Kosovo yang menentukan membela Swiss.

Empat pemain di atas, ditambah Shaqiri, masih bertahan hingga trend panas tahun ini. Namun, Inter agaknya belum puas dengan amunisi Balkan yang dimiliki. Sejauh ini, ada dua nama lain yang terus dikaitkan dengan I Nerazzurri. Keduanya merupakan pemain depan. Stevan Jovetic dari Montenegro dan Ivan Perisic yang merupakan rekan senegara Kovacic dan Brozovic. Kedua pemain semakin dekat dengan pintu masuk Giuseppe Meazza. Meski di sisi lain, Shaqiri justru tengah menunggu jalan masuk untuk pergi.

Ivan Perisic dan Stevan Jovetic dapat semakin memperkental nuansa Balkan di Inter.

Langkah yang dilakukan Inter terbilang cukup unik. Biasanya, pemain dari negara-negara besar sepak bola menyerupai Brasil, Argentina, Belanda, atau Jerman, kerap menjadi primadona. AS Roma pernah menumpuk pemain Brasil, AC Milan terkenal dengan trio Belanda. Inter, yang pernah mengusung trio Jerman dan bersahabat dengan sejarah pemain Argentina, sekarang justru berpaling ke aroma Balkan. Padahal, sejarah permainan si kulit lingkaran di daerah Balkan tidak lebih elok. Terlebih semenjak Yugoslavia pecah menjadi pecahan negara-negara kecil menyerupai Bosnia & Herzegovina, Kroasia, Slovenia, Rep. Makedonia, Serbia, Montenegro, hingga Kosovo. Ditambah lagi, konflik di antara mereka masih cukup kental.

Namun, Balkan tetaplah etnik yang begitu besar hati dengan sejarah sepak bola mereka. Semangat dramatik sepak bola Balkan bahkan pernah diadopsi oleh sineas Serbia, Dragan Bjelogrlic, ke dalam sebuah film bertemakan sepak bola yang berjudul Montevideo God Bless You. Film ini berkisah wacana drama usaha etnik Balkan yang mengusung Yugoslavia kala mencapai peringkat ketiga pada Piala Dunia 1930 di Montevideo, Uruguay.

Episode sejarah itu sering dikenang dan dipakai oleh orang-orang Serbia untuk membanggakan keunggulan dan nama besar etniknya. Cerita kepahlawanan itu sekaligus menjadi folklore yang didendangkan sebagai pemantik mimpi kepada kaum muda negara-negara Balkan yang hendak membaktikan dirinya melalui sepak bola.

Padahal, dalam sejarahnya, Yugoslavia ditakdirkan sebagai tempat yang sulit bagi bersatunya bermacam-macam etnik. Faktor multirasial, etnik dan agama di Yugoslavia memang selalu menjadi bumbu perpecahan, perseteruan, dan bahkan peperangan satu sama lain. Perpecahan dan perseteruan itu sudah berlangsung lama, semenjak Yugoslavia berbentuk kerajaan, bermutasi menjadi republik, hingga sekarang berintegrasi terkotak-kotak ke dalam 8 negara terpisah.

Sebuah adagium Balkan kuno berujar: “Apa yang menimpa kakek saya akan menimpa saya juga. Maka, sebelum menimpa saya, saya harus bertindak.” Pepatah itu menjadi pembenaran untuk bertindak lebih dulu. Mereka didorong untuk beraksi lebih dulu, ketimbang didahului. Lebih baik menindas daripada ditindas.

Dalam soal sepak bola, chauvinisme juga telah menghancurkan kesebelasan nasional Yugoslavia. Disintegrasi yang terjadi menciptakan Kesebelasan Yugoslavia karenanya ikut porak poranda. Orang masih ingat jelang Piala Eropa 1992, kemerdekaan yang diproklamirkan oleh Kroasia dan Slovenia menciptakan eksodus pemain dari etnik Kroat dan Slovenians dari tim nasional. Padahal, hampir 40% skuat timnas berasal dari etnik tersebut.

Bagaimanapun juga, arena sepak bola ialah panggung untuk menumpahkan rasa nasionalisme dan patriotisme kebangsaan. Zvonimir Boban misalnya. Pria asal Kroasia ini rela menyumbang 100.000 dolar AS untuk membeli senjata bagi bangsanya guna melawan tentara Yugoslavia. “Melalui sepak bola saya ingin membiayai usaha di garis depan,” ucapnya secara heroik.

“Di sini saya berdiri, di hadapan wajah-wajah yang berani mengambil risiko, di depan mereka yang berani mengorbankan karier dan hidupnya. Berdiri untuk sesuatu yang dianggap pantas dan layak. Berdiri alasannya ialah satu keyakinan, Kroasia!” Kalimat itu juga meluncur dari lisan Boban ketika gres berusia 21 tahun, sehabis insiden kerusuhan berbau SARA pada pertandingan antara Dynamo Zagreb versus Red Star Belgrade di stadion Maksimir, Zagreb, pada 10 Juni 1990.

Tawuran massal antarsuporter pecah. Petugas keamanan Kota Zagreb, yang dominan orang-orang Serbia, terlibat agresi saling lempar batu, berkelahi jotos, dan bentuk kekerasan lainnya. Polisi lebih asyik mengejar dan menangkap orang-orang Kroasia. Hingga datang pemandangan yang menarik perhatian Boban, ketika Polisi meringkus seorang pendukung Dynamo Zagreb di tengah lapang.

Tak rela melihat pendukung Dynamo Zagreb dihajar dan ditangkap polisi Serbia. Boban melayangkan tendangan hingga sang petugas terjengkang. Fans yang ditolong berhasil membebaskan diri. Nahas bagi Boban yang karenanya ditangkap dan dijerat hukuman. Tapi, rakyat Kroasia menempatkan insiden itu sebagai serpihan usaha patritotik rakyat Kroasia melepaskan diri dari kungkungan orang-orang Serbia.

Dari setiap pecahan usaha itu, para pesepak bola dari negeri Balkan, khususnya Kroasia, mulai berbicara banyak di Eropa. Pada kurun modern, berjuang di atas lapangan menjadi bentuk perlawanan yang lebih positif. Semenjak generasi emas yang membawa Kroasia menduduki peringkat ketiga di Piala Dunia 1998, sederet anak muda siap menulis sejarah yang tak kalah elok demi negara yang dicintai.

Cerita heroik para pendahulu menginspirasi generasi muda Kroasia mulai Luka Modric dan Ivan Rakitic di Spanyol, hingga Kovacic dan Brozovic di Italia. Semangat usaha masih menempel di dalam diri setiap pemain Balkan. Semangat yang lahir dari kerasnya hidup akhir konflik berkepanjangan. Bosnia & Herzegovina, Kroasia, Slovenia, Rep. Makedonia, Serbia, Montenegro, hingga Kosovo, mempunyai pujian terhadap sejarah sepak bola yang mereka bangkit di atas tetes keringat dan darah para pejuang.

Alasan itu pula yang mungkin melatari keputusan Inter mulai berpaling dari aroma Tango dengan kian mengentalkan warna Balkan, khususnya Kroasia. Ditambah lagi, sejarah usaha Kroasia dalam melepaskan diri dari arogansi Serbia pun sejalan dengan perlawanan Inter memegang teguh penemuan terhadap invasi pemain asing. Demi sebuah prinsip, Inter tetapkan lepas dari Milan Cricket and Football Club pada 1908, yang sekarang menjadi rival sekota, AC Milan.

“This wonderful night will give us the colours for our crest: black and blue against a backdrop of gold stars. It will be called Internazionale, because we are brothers of the world,” suara deklarasi ‘kemerdekaan’ Inter pada 9 Maret 1908. Melalui slogan ‘brothers of the world’ itu, Inter sekarang mulai merangkul para pesepak bola dari negara-negara Balkan. Handanovic, Vidic, Kovacic, Brozovic, dan kelak Perisic serta Jovetic, akan mengesampingkan kentalnya perseteruan etnik di semenanjung Balkan demi panji I Nerazzurri.

Penulis: Irawan Dwi Ismunanto
Bisa Dihubungi di
Twitter @IrawanCobain
Email: iracobain@gmail.com