Press "Enter" to skip to content

Terkini Pesona Inter Muda

Kontra Lazio di mid week kemarin menjadi panggung tepat bagi penampilan mengesankan Mateo Kovacic. Pergerakannya lincah cepat, umpan akurat dibarengi dengan fisik yang berpengaruh dan pembawaan yang tenang. Prodigy asal Kroasia yang gres saja berulang tahun ke-19 pada 6 Mei kemudian itu mengambarkan bahwa Inter tak salah merekrutnya dengan nilai fantastis 15 Juta Euro. Kovacic telah mentahbiskan diri menjadi rekrutan terbaik Nerazzurri di ekspresi dominan ini.

Banyak yang mempertanyakan ketika Inter melepas bakat mirip mario balotelli, Davide Santon ataupun leonardo bonucci. Pemain berkualitas dari Primavera Inter yang kemudian terbukti menjadi pilar di klubnya masing-masing. Mengapa mereka tidak dipertahankan. Mengapa Inter begitu simpel melepas mereka. Sehingga yang muncul kemudian ialah sebuah kesimpulan lama, Inter ialah tim yang ‘hobby’ membuang pemain berbakat. Baik yang dari perguruan sendiri maupun pemain muda yang diperoleh dari klub lain. Ada banyak nama yang bisa disebutkan untuk mendukung kesimpulan tersebut. Phillipe Coutinho ialah referensi nama terbaru.

Kondisi ketika ini seolah menjadi jalan bagi administrasi Inter untuk sanggup melihat lebih bersahabat kualitas pemain muda yang dimilikinya. Termasuk di dalamnya belum dewasa mereka sendiri. Blessing in disguise. Peraturan Financial Fair Play dari UEFA juga menjadi ‘berkah terselubung’. Bukan saatnya Inter ‘membabi buta’ di bursa transfer. Saat melawan Lazio, tak hanya Kovacic. Bahkan penampilan Marco Benassi dan Simone Pasa juga tak kalah apik. Meski berstatus sebagai gelandang, performa Benassi di bek kanan dan Pasa di bek tengah patut dibanggakan. Pasa tak merasa canggung meski dibangku cadangan ada nama lain yaitu pemain senior sekelas Cristian Chivu. Luca Garritano yang berposisi orisinil striker bermain penuh semangat pada posisi all round player.

Sebagai ex instruktur Inter Primavera yang sukses menjadi juara dalam Next Gen series 2011, Andrea Stramaccioni memiliki kesempatan besar untuk sanggup menampilkan pemain muda milik Inter.
Strama hingga ketika ini telah menampilkan sembilan pemain primavera. Mereka ialah Ibrahima Mbaye, Simone Pasa, Andrea Bandini, Isaac Donkor, Alfred Duncan, Marco Benassi, Niccolo Belloni, Luca Garritano dan yang terbaru Francesco Forte. Jika keputusan untuk mempertahankan Strama benar adanya, maka bukan tak mungkin akan makin banyak pemain muda La Beneamata yang segera memperlihatkan kualitasnya. Hal ini tentu akan menjadi pemandangan yang tidak biasa dimana para Interista sebelumnya selalu dimanjakan oleh gelontoran pemain bintang dan ternama.

Pertanyaannya kemudian : Siapkah Interisti menghadapi situasi transisi ini. Beranikah mereka ber-roller coaster bareng Inter ??? Saya eksklusif menjadi Interista ketika Inter tak mendapat penalti dalam sebuah moment ketika Ronaldo dihadang oleh mark iuliano di partai yang menentukan Serie A ekspresi dominan 1997/1998. Meskipun beberapa hari sehabis pertandingan tersebut Nerazzurri mendapat trophy Piala UEFA, namun hal tersebut tak mengurangi kekecewaan. Karena pada ketika tersebut scudetto ialah tujuan utama. Dan yang terjadi selanjutnya ialah sebuah periode gelap. Puncaknya tentu 5 Mei 2002. Nerazzurri gagal scudetto pada giornata terakhir. Memang gak simpel menjadi Interista.

Lalu apakah ketika ini Inter kembali memasuki masa gelap ? Bisa jadi. Gonta-ganti instruktur sehabis kepergian Jose Mourinho menjadi indikasi. Padahal pelatih-pelatih tersebut andal dan berpengalaman. Namun mereka tak kuasa juga bertahan usang dan Inter juga mirip biasa tak tahan dengan prestasi yang sepi. Jika menyidik pada sejarah, Inter pertama kali mendapat scudetto pada tahun 1910. Kapan Inter mendapat Scudetto kedua? Yup, betul 1920! Jika fenomena itu berulang satu kurun kemudian maka bukan tak mungkin Inter akan meraih scudetto lagi 2020. 10 tahun sehabis 2010.

Ada yang bilang bahwa kita menjadi tifosi sebuah klub bukan sebab kita menentukan tetapi sebab anugerah. It’s a gift. Makara apapun prestasi yang sedang didapat nikmati saja. Bagi saya sepakbola tak melulu soal gelar. Jika berbicara trophy nanti yang ada hanya memberi kebanggaan ketika menang dan mengeluarkan cacian ketika jadi pecundang. Lebih dari itu, sepakbola juga wacana kenikmatan. Menang, draw ataupun kalah ketika menyaksikan tim kita bermain itu sudah sebuah kebahagiaan. Terima kasih TVRI.

Pernah ada sebuah dongeng di salah satu buku yang saya baca. Ada seorang suami yang berpamitan dengan istrinya sebelum berangkat ke kantor. Kemudian sambil menyalami suaminya, istri tersebut berkata : ‘Pa, tolong tuliskan enam kekurangan saya sebagai istri, nanti pulang kantor kasih ke saya ya’. Selama di kantor suami tersebut terus berpikir. Dia mencoba menemukan kekurangan istrinya. Kemudian pada ketika sudah hingga dirumah di malam hari, istrinya sudah tak sabar menantinya di pintu. Kata istrinya : ‘Bagaimana Pa, sudah kamu tuliskan enam kekuranganku ?’ .’Sudah’ : kata sang Suami sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Apa yang suami tersebut keluarkan ?. Suami tersebut mengeluarkan enam kuntum mawar putih. ‘Istriku saya tak menemukan satupun kekurangan dalam dirimu. Aku mencintaimu apa adanya’.

Itu jugalah mungkin sedikit ilustrasi yang menjadi prinsip saya dalam menyayangi Inter. Unconditional Love. Right or wrong it’s my Inter. Ada yang bilang, sahabat sejati harus menawarkan kritik kalau sahabat sedang bertindak salah. Itu kalo teman. Tapi buat saya, Inter itu ialah pasangan. Soulmate. My Passion. Lebih dari sekedar teman. Tak mungkin saya katakan kejelekan pasangan saya dimuka umum. Kalaupun ada kritik akan saya sampaikan secara pribadi. Atau cukup simpan dalam hati. Tak perlu harus mengumbarnya hingga bahkan dengan kata-kata yang garang dan kotor. Pasangan itu menyerupai saya sendiri. Mengejeknya sama saja dengan menjelekkan nama saya sendiri.

Prestasi memang bisa naik turun. Dan semua ada saatnya. Ada masanya. Masa sepakbola indah gaya Real Madrid berganti dengan era catenaccio Helenio Herrera milik Inter. Grendel Inter hilang masanya ketika kalah oleh total football era Johan Cruyff di Final Piala Champion 1972. Kemudian total football dibilang mati ketika Belanda kalah dari Jerman Barat ketika Final Piala Dunia 1974. Dan sekarangpun Barcelona yang dibilang klub dari planet lain harus menjadi materi tertawaan sebab kalah agregat 7-0 dari Bayern Muenchen dalam semifinal Liga Champion ekspresi dominan ini. Tak ada yang abadi. Kalah menang tak lebih dari sebuah siklus.

Kini saatnya untuk kembali menikmati Inter mirip ketika saya pertama kali menjadi Interista. Dari sebuah klub yang menjadi cemoohan bahkan nyaris degradasi menjadi klub pertama di Italia yang mendapat treble winner. Sebuah pencapaian yang andal tak terkata. Dari ratusan bahkan mungkin ribuan klub di Eropa hanya enam klub yang telah bisa mencapainya. Dan Inter ialah salah satunya. Hebat khan. Inter juga menjadi salah satu dari lima klub di liga besar eropa (Spanyol,Inggris,Jerman dan Italia) yang belum pernah degradasi ke kasta yang lebih rendah. DNA Serie A.

Semoga Inter tetap bertahan dengan pilihannya untuk mengutamakan pemain muda bersama instruktur muda juga. Barcelonanya Josep Guardiola juga sempat berada dalam kondisi kritis di ekspresi dominan pertama sebelum bermetamorfosis menjadi kelompok para alien. Salah satu alasan David Moyes terpilih untuk gantikan Sir Alex Ferguson ialah sebab ia menomorsatukan pengembangan pemain usia muda. Borussia Dortmund juga sanggup menjadi referensi yang baik bagi modifikasi filosofi Nerazzurri.

Tetap semangat! Pain is temporary but Pride is forever. Forza Inter !!!

Johan Satrya
@joretni

sumber: http://www.interclubindo.com/2013/05/pesona-inter-muda/