Press "Enter" to skip to content

Terkini Milan Derby: Tak Sekadar Otot

Patung Bunda Maria di puncak Gereja Katedral Milan Terkini Milan Derby: Tak Sekadar Otot

Setiap laga derby, niscaya selalu panas dan bertensi tinggi. Aksi-aksi menawan dari pemain kedua tim tersaji di lapangan. Tujuan mereka hanya satu yakni ingin menawarkan lebih baik dari klub sekota.

Pastinya, laga tersebut sarat emosi. Bukan hanya prestasi yang diperebutkan, tetapi lebih alasannya yaitu gengsi.Tak terkecuali dengan laga AC Milan kontra Inter Milan yang erat disebut Derby della Madonnina. Adu teknik dan skill yang kadang muncul goresan di lapangan kerap mewarnai pertemuan keduanya.

Akan tetapi, di samping berkelahi otot di lapangan, laga Derby della Madonnina juga menghadirkan kisah lucu dan unik. Baik itu terkait soal pemain maupun tifosi. Berikut beberapa hal lucu dan unik yang ada di Derby della Madonnina. (edy)

Patung Bunda Maria

Laga AC Milan kontra Inter Milan disebut Derby della Madonnina alasannya yaitu di dekat Stadion Giuseppe Meazza terdapat patung Bunda Maria (Virgin Mary) yang letaknya di puncak Gereja Katedral Milan. Madonnina merupakan panggilan masyarakat setempat untuk patung Virgin Mary yang menjadi salah satu trademark Kota Milan.

Bagi warga Milan, itu merupakan kawasan yang sakral dari segi rohani. Karena di Italia sepak bola menjadi sebuah “kepercayaan”, tak berlebihan pertemuan Milan dan Inter disebut Derby della Madonnina. Secara etimologis bisa diartikan bahwa siapa pun yang memenangi derby tersebut, merekalah yang berhak berada di puncak Kota Milan.

Chiasso Cup

Derby pertama antara AC Milan kontra Inter Milan terjadi pada 18 Oktober 1908 di ajang Chiasso Cup meski bukan ajang resmi. Laga itu dihelat di Chiasso (Swiss). Dalam laga yang dipimpin wasit Bollinger (Bellinzona) itu, Milan menang dengan skor 2-1 lewat gol Lana dan Forlano.

Rivera Versus Mazzola

Pada kala 1960-an, Derby della Madonnina memunculkan perjumpaan bintang Italia masa itu yakni Gianni Rivera (AC Milan) dan Sandro Mazzola (Inter Milan). Keduanya sama-sama pernah memegang jabatan kapten. Rivera dijuluki Golden Boy alasannya yaitu kehebatannya. Sementara, Mazzola meneruskan kecemerlangan ayahnya, Valentino Mazzola, legenda Torino, yang meninggal dalam Tragedi Superga.

Rivalitas Rivera dan Mazzola tak hanya di klub, namun menular ke timnas Italia. Oleh instruktur Gli Azzurri di kala itu, keduanya jarang dimainkan bersamaan. Ketika Rivera starter, Mazzola dicadangkan. Saat Mazzola dimasukkan, Rivera ditarik keluar. Salah satu instruktur Gli Azzurri kala itu, Ferruccio Valcareggi, menyebut persaingan Milan dan Inter menciptakan keduanya tak bisa bermain bersamaan.

Belanda Kontra Jerman

Derby della Madonnina identik dengan rivalitas Belanda vs Jerman pada selesai 1980-an hingga pertengahan 19990-an. Kala itu, AC Milan diperkuat trio Belanda yakni Ruud Gullit, Marco van Basten, dan Frank Rijkaard. Sementara, Inter Milan memasang trio Jerman yakni Andreas Brehme, Jürgen Klinsmann, dan Lothar Matthäus.

Keberadaan Van Basten cs menciptakan sebagian Milanisti ikut mendukung timnas Belanda di Piala Dunia 1990 yang digelar di Italia. Sementara, Interisti menyemangati Jerman. Itu terlihat ketika Jerman bertemu Belanda di babak perdelapan final yang digelar di Giuseppe Meazza. Kemenangan Jerman 2-1 lewat gol Klinsmann dan Brehme, disambut antusias oleh Interisti kala itu.

Tetap Berteman

Bersaing hanya di lapangan hijau ketika laga dimainkan. Itulah prinsip pemain AC Milan dan Inter Milan dalam Derby della Madonnina. Di luar dan bahkan ketika tak bertanding di dalam lapangan, pemain kedua tim tetap berteman. Itu terlihat ketika Marco Materazzi dan Rui Costa begitu erat bangun di lapangan menyaksikan kembang api yang dilemparkan ke lapangan oleh tifosi kedua tim.

Itu terjadi di laga leg kedua perempat final Liga Champions 2004-05 (12/4/05). Akibat dianulirnya gol Esteban Cambiasso oleh wasit Markus Merk, Interisti murka dan pribadi melempar botol ke lapangan. Mereka kemudian terlibat perang kembang api dengan Milanisti. Kejadian itu menciptakan Merk terpaksa menghentikan laga dan UEFA memutuskan Milan menang dengan skor 3-0.

Ejekan Fans

Saat Inter Milan menjamu AC Milan pada giornata ke-37 (6/5) demam isu 2011-12, seorang tifoso Inter mengangkat kaus putih dengan goresan pena “Oh nooo!”. Itu ditujukan untuk membalas banner pendukung Milan yang pada dasarnya mereka yaitu tetap penguasa Kota Milan. Suporter itu mengangkat kaus sesudah pertandingan berakhir dan Inter menang dengan skor 4-2. Sudah pasti, goresan pena di kaus itu merupakan ketidakpercayaan sesudah timnya bisa menang 4-2 atas Milan.

Buntut dari tingkah tifoso tersebut, Inter menerima eksekusi denda sebesar 20 ribu euro alasannya yaitu goresan pena itu dianggap sebagai penghinaan. Sementara, Milan juga dikenai denda sebesar 10 ribu euro atas banner yang dipasang fans mereka.

Kaus Cordoba

Ada sesuatu yang janggal ketika pemain Inter Milan memasuki lapangan ketika hendak menjamu AC Milan (6/5). Semua pemain menggunakan kaus bernomor punggung dua dengan nama Cordoba. Usut punya usut, mereka sengaja melakukannya untuk menghormati Ivan Cordoba alasannya yaitu laga itu menjadi Derby della Madonnina terakhirnya. Pada selesai 2011-12, Cordoba meninggalkan Inter. Defender asal Kolombia itu diturunkan pada menit ke-84 menggantikan Wesley Sneijder.

Altafini dan Milito

Mencetak banyak gol dalam satu laga Derby della Madonnina bukan kasus gampang. Hingga ketika ini gres Jose Altafini yang bisa melakukannya. Dia satu-satunya pemain yang bisa mencetak empat gol di Derby Milan. Penyerang berdarah Brasil ini melakukannya kala AC Milan menang 5-3 atas Inter pada 27 Maret 1960 di ajang Serie-A 1959-60.

Sementara, Diego Milito tercatat sebagai salah satu pemain Inter yang bisa mencetak banyak gol dalam Derby Milan. Dia mencetak hat-trick ketika Inter menang 4-2 (6/5) demam isu lalu. Penyerang asal Argentina itu menyamai pencapaian legenda mendiang István Nyers yang juga mencetak hat-trick ketika Inter menang 3-0 atas Milan (1/11/53) di Serie-A 1953-54.

Raja Derby

Andriy Shevchenko dan Giuseppe Meazza pantas dinobatkan sebagai raja Derby della Madonnina. Selama kariernya, kedua pemain itu bisa mencetak 14 gol dalam Derby Milan di semua ajang. Itu merupakan jumlah gol terbanyak dibanding pemain-pemain lainnya.

Akan tetapi, Shevchenko bisa dikatakan lebih mahir ketimbang Meazza. Dia melakukannya hanya bersama satu klub yakni AC Milan. Sementara, Meazza mengoleksinya bersama Milan dan Inter Milan.