Press "Enter" to skip to content

Terkini Mancini Dan Penantian Panjang Inter Milan

Mengulang sukses 
 

                                                          Terkini  Mancini dan Penantian Panjang Inter MilanWaktu memang terus bergerak, merangsek ke depan, membentuk zaman. Serie A Italia pun semakin panas.

Tapi sepakat kita sejenak menoleh ke belakang dan menyebut nama  ini: Roberto Mancini.

Mancini lahir di Jesi, 27 November 1964. Dia ditakdirkan untuk  menjadi pesepakbola, juga pelatih. Sukses, juga apes, tiba silih berganti.

Bologna, dari sana beliau memulai kariernya. Tak lama, hanya setahun (1981–1982). Pindah ke Sampdoria (1982–1997), Mancini panen gelar: satu gelar scudetto, empat Coppa Italia, serta Piala Winner.

Mancini juga menggoreskan kenangan indah bagi Lazio, klub yang dibelanya selama tiga tahun (1997–2001): satu piala Winners, dua titel Coppa Italia.

Masa-masa kejayaan Mancini mulai redup, seiring dengan dipinjamkannya beliau ke Leicester City (2001). Bersama  Leicester City, Mancini hanya mendapat kesempatan dalam empat laga.   

Sukses di klub, Mancini gagal moncer bersama Timnas Italia.  Berseragam  Azzurri, Mancini hanya mengantongi 36 tubruk dengan torehan empat gol.

Dunia balbalan tak sanggup lepas dari Mancini. Sepak bola adalah  hidupnya, dunianya, hari-harinya. Tak lagi menjadi pemain, Mancini  meneruskan kariernya sebagai pelatih.

Mengawali karier, Mancini mengarsiteki Fiorentina (2001–2002). Lalu  Lazio (2002–2004). Pencapaian Mancini bersama kedua klub tersebut tak jelek-jelak amat, bila jam terbang menjadi tolok ukur.

Kepada La Viola,  Coppa Italia beliau persembahkan. Gelar serupa juga beliau berikan kepada Lazio.

                                                          Terkini  Mancini dan Penantian Panjang Inter Milan
Sukses besar ditorehkan Mancini saat dirinya dipercaya menukangi Inter Milan. Selama empat tahun masa pengadiannya (2004–2008), Inter super tokcer: Dua titel Coppa, dua gelar SuperCoppa, serta  tiga gelar scudetto.

Luar biasa! Tak ada yang sanggup melaksanakan itu sebelumnnya di Inter,  setidaknya dalam 30 tahun terakhir. Mancini panen pujian. Namanya  terpatri besar lengan berkuasa di hati para fans Nerazzurri.

Sayang, kemesraan itu hasilnya berakhir. Gagal bersaing di level  Eropa, jabatan Mancini menjadi taruhan. Dia didepak, posisinya digantikan Jose Mourinho.

Tak sedikit yang meragukan, Mancini bakal sanggup mengulangi sukses  menyerupai yang beliau pahat tatkala masih membidani La Beneamata.

Tapi Mancini mematahkan keraguan tersebut. Dia justru kembali  berjaya di Premier League, Inggris, kompetisi yang katanya paling ketat di dunia.

                                                          Terkini  Mancini dan Penantian Panjang Inter Milan
Adalah Manchester City yang pernah mencicipi sentuhan magis Mancini, dari 2009 – 2013. Tak hanya menjadi yang terbaik di pentas Premier League edisi 2011/2012, City juga kampiun Piala FA  2010/2011, serta Community Shield 2012.

Apa boleh buat, Mancini harus menelan pil pahit. Kegagalan di  penyisihan grup Liga Champions menjadi kerikil sandungan bagi Mancini. Selasa pagi, 14 Mei 2013, City resmi mengeluarkan pernyataan pemecatan Mancini.

Mancini, tak usang sesudah pemecatan itu, mengaku masygul. Dia sedih, juga kecewa. Benar-benar emosional.

Kepada suratkabar Corriere dello Spor, Mancini berkata,” Saya akui itu masih menyakitkan. Saya pikir, saya pantas mendapat respek lebih atas apa yang sudah saya lakukan untuk Manchester City”.

Petualangan Mancini berlanjut ke Turki, bersama Galatasaray (2013–2014). Dia menggantikan  Fatih Terim.

                                                          Terkini  Mancini dan Penantian Panjang Inter Milan
Setahun menangani Galatasaray, Roberto Mancini bersama-sama menorehkan  catatan apik, yakni menyabet gelar juara Piala Turki 2013-2014.  Galatasaray tidak mengecewakan menyengat di Liga Champions, walau hasilnya kandas di babak 16 besar Liga Champions. Hanya saja, Galatasaray gagal mempertahankan gelar juara Liga Turki dan harus puas finis di posisi kedua.
Sejatinya, Mancini masih menyisakan kontrak dua tahun. Namun, Mancini menentukan meninggalkan Sarı Kırmızılılar lebih cepat.

Takdir kemudian membawa Mancini kembali ke Inter, medio November 2014. Jebloknya kinerja Walter Mazzarri memaksa petinggi Inter mencari sosok pengganti yang tepat. Mancini-lah orannya.

Memaksimalkan tubruk tersisa, Mancini berharap ada keajaiban. Tapi itu tak terjadi. Di bawah asuhan Mancini, Inter mengakhiri Serie A edisi 2014/2015 dengan finis di posisi kedelapan.

                                                          Terkini  Mancini dan Penantian Panjang Inter Milan
Mancini masih dipercaya sebagai pelatih. Musim 2015/2016 harus lebih baik. Bos Besar, Erick Thohir, menegaskan bahwa Inter harus finis di papan atas Serie A ekspresi dominan ini. Targetnya jelas, yakni Liga Champions 2016/2017.

Uang banyak pun digelontorkan. Sejumlah amunisi anyar didaratkan ke Giussepe Meazza. Mereka yakni Ivan Perisic, Stevan Jovetic, Martin Montoya, Jeison Murillo, Miranda, juga Geoffrey Kondogbia.

Lima kemenangan dari enam laga, setidaknya bukti bahwa Inter telah bangun dari keterpurukan.

Masih terlalu dini untuk bicara Scudetto, memang. Jalan masih panjang dan berliku. Walau demikian, Inter dengan instruktur sekaliber Mancini, menjadi jaminan mutu.

Jika Mancini sanggup melakukannya pada masa lalu, bukan tak mungkin beliau pun akan melakukannya ekspresi dominan ini. Terakhir, Inter juara Serie A ekspresi dominan 2009/2010. Akan usaikan penantian panjang itu? Semoga.