Press "Enter" to skip to content

Terkini Kami Jatuh, Tapi (Harus) Berdiri Lagi!

 Pertanyaan itu  dilontarkan sahabat kerja beberapa jam sebelum pertandingan midweek  Serie Terkini Kami Jatuh, Tapi (Harus) Bangkit Lagi!

“Inter lawan Lazio, siapa yang menang kira-kira?” Pertanyaan itu dilontarkan sahabat kerja beberapa jam sebelum pertandingan midweek Serie-A, Rabu (8/5). Kebetulan, beliau juga tengah berkemas-kemas menjadi komentator adu Inter vs Lazio di sebuah stasiun televisi. Saya sadar, pertanyaan itu bermuatan sindiran, mengingat performa Inter belakangan ini memang tengah terpuruk.

“Lazio bakal menang, minimal skor 2-1,” jawab saya spontan. Mungkin jawaban itu tidak sesuai perkiraannya. Dia tahu saya menyukai Inter, dan tentu berpikir saya akan menjawab dengan penuh optimistis. Saya sendiri galau kenapa malah menjawab Lazio yang akan menang. Padahal, di lubuk hati saya tentu berharap Inter yang akan mencetak gol lebih banyak ketimbang tamunya itu.

Akan tetapi, ketika itu budi mengalahkan segalanya. Terselip juga cita-cita jahat terhadap tim pertolongan saya. Ya, dengan kondisi yang karut marut, saya memang tak berharap Inter bisa lolos ke Europa League. Mungkin cita-cita ini akan menciptakan saya di-bully seluruh teman, pun di twitter. Namun, saya justru melihat hal itu yang terbaik untuk Inter.

Kenyataannya, Inter memang tengah krisis. Tak cuma urusan finansial, yang tengah menyerang sebagian besar klub Italia sampai Eropa, pun soal mentalitas dan karakterisitik tim. Hampir seluruh pihak menyalahkan topan cedera yang menyerang Inter. Memang bukan klaim yang salah, tapi juga tidak sepenuhnya tepat. Toh dalam sepak bola profesional, bukan cuma Inter yang pernah mencicipi topan cedera.

Dengan konsekuensi bermain lebih dari satu kompetisi, hambatan tersebut seharusnya sudah bisa diantisipasi. Kedalaman skuad mutlak dibutuhkan, terlebih ketika sebuah tim mempunyai asa berprestasi tinggi di semua ajang itu. Hal itu tidak dimiliki Inter ketika ini. Sebagian besar pemain pilar sudah berusia lanjut. Sedangkan para pemain muda masih terlalu minim pengalaman dan jarang menerima kepercayaan. Saya pun belum melihat kecerdasan Inter dalam beraktivitas di bursa transfer.

Pelatih Andrea Stramaccioni sendiri tak lepas dari status kambing hitam. Khusus untuk klaim ini, saya menilainya lebih terasa absurd. Meski sangat masuk akal seorang instruktur menjadi sosok yang paling bertanggung jawab dalam naik-turunnya tim. Namun, dengan kondisi ketika ini, bahkan Jose Mourinho pun akan kesulitan membawa Inter juara. Tengok juga instruktur sekaliber Massimiliano Allegri, yang sempat kesulitan meracik AC Milan sesudah ditinggal sederet bintangnya pada awal ekspresi dominan lalu.

Di mata saya, Allegri bukan instruktur ‘kacangan’. Saya bahkan tak segan menyebutnya sebagai salah satu maestro micro-tactic di Italia ketika ini. Namun, realitanya, situasi Stramaccioni ketika ini pun pernah dialami Allegri pada awal musim. Beruntung bagi Milan, Allegri berhasil menemukan formula jitu untuk membangkitkan timnya. Didukung kehadiran Mario sebagai suntikan amunisi pada paruh musim.

Dalam usia muda, Stramaccioni sendiri punya potensi yang tak kalah besar dari Allegri. Namun, pengalaman yang berbicara. Stramaccioni masih tergolong anyir kecur di persepakbolaan Italia, bahkan Eropa. Potensi sempat diperlihatkannya ketika membawa Inter Primavera menjuarai NextGen Series tahun lalu. Akan tetapi, penunjukkan Stramaccioni sebagai instruktur tim senior Inter merupakan langkah yang mahabesar dan mahaberat.

Hal itu disadari pula oleh Presiden Massimo Moratti. Saat banyak pihak mulai berspekulasi soal pemecatan Stramaccioni, Moratti justru masih berusaha tenang. Dia sadar, dengan pengalaman minim yang dimiliki, akan sangat sulit bagi Stramaccioni mengendalikan krisis yang tengah menerpa Inter. Moratti yang dikenal emosional, ternyata masih bisa bersabar dengan situasi yang dialami Stramaccioni.

“Kami tampil manis pada beberapa kesempatan sampai balasannya banyak hal berbalik menyerang kami. Salah satunya ialah cedera yang melanda banyak pemain. Sangat sulit bila harus menyalahkan (Stramaccioni),” ucap Moratti terkait kondisi Inter usai gagal lolos ke Liga Europa.

Dalam hal strategi, Stramaccioni pun masih coba meraba potensi yang dimiliki timnya. Terlihat dari 12 deretan berbeda yang pernah dicicipinya selama menukangi Inter. Padahal, konsistensi taktik teramat penting. Antonio Conte bersama Juventus dan Walter Mazzarri di Napoli sadar betul terhadap hal itu. Keduanya pun akan berpikir seribu kali untuk mengubah pakem tiga bek yang selama ini menjadi andalan.

Di Inter, Stramaccioni juga tak sekadar butuh waktu. Dukungan direksi pun wajib hukumnya. Tak cuma soal moral, pun kejelian dalam mengartikan keinginan sang allenatore. Saat Wesley Sneijder ‘diusir’ Inter, Stramaccioni hanya meratap. Dia pun coba bereksperimen dengan menempatkan Fredy Guarin di posisi Sneijder. Meski sempat tampil baik, kegemilangan Guarin perlahan meredup. Beban berat yang dipikul tak diimbangi kemampuan memerankan kiprah itu.

Penjualan Philipe Coutinho ke Liverpool pun tidak sepenuhnya salah. Di Premier League, Coutinho memang tampil semakin memesona. Namun, lebih sebab permainan di Inggris dan Italia sangat berbeda. Pemain yang doyan meliuk-liuk menyerupai Coutinho memang tak melulu berhasil menantang permainan keras ala Italia, terlebih pada usia belia.

Tengok pula Ricky Alvarez. Semakin sering beliau usang menahan bola dan pamer skill, potensi kegagalan semakin besar. Skill individu mumpuni memang bukan permata yang sangat berharga di Italia. Beruntung Alvarez mulai menemukan kedewasaan dalam bermain dan tahu bagaimana mengikuti keadaan dengan keinginan tim. Saya sendiri sempat berpikir, andai Lionel Messi bermain di Italia, torehan gol menyerupai di Barcelona mungkin akan sulit diulanginya.

Lalu, apa solusi yang harus dilakukan Inter dalam memperbaiki performa ekspresi dominan depan? Sebagai fans, terselip cita-cita adanya acara transfer besar-besaran pada ekspresi dominan panas mendatang. Termasuk mendatangkan bintang-bintang kelas dunia. Namun, terang itu akan sulit teralisasi. Kondisi keuangan tak lagi memungkinkan Inter membeli pemain dengan harga selangit.

Terlebih, Moratti tengah memusatkan fokus, khususnya finansial, demi proyek pembangunan stadion baru. Niat luhur sang patron tak boleh diganggu-gugat. Inter dan tim Italia lain, mutlak butuh stadion gres jikalau tak ingin semakin tertinggal dari Spanyol, Inggris pun Jerman.

Apakah Inter butuh pemilik gres dengan cita-cita masuknya investor asing? Hal ini juga sangat sulit. Tradisi di Italia lebih mengedepankan prinsip nasionalisme. Sejauh ini, investor aneh masih diharamkan mengambil saham lebih banyak didominasi klub Italia. Jadi, jangan harap ada perngusaha Qatar, Uni Emirat Arab atau bahkan Indonesia yang bisa menggurus Moratti dari tampuk kepemimpinan Inter.

Jika balasannya Stramaccioni dipertahankan ekspresi dominan depan, Moratti tentu perlu lebih memahami kebutuhan tim. Sinergi diperlukan antara presiden, direksi, staf instruktur dan skuad. Saya baiklah dengan perkataan Leonardo, bahwa sebuah tim ideal akan mempunyai Moratti di posisi presiden dan Adriano Galliani sebagai direktur. Inter butuh sosok juru transfer menyerupai Galliani. Marco Branca terang masih jauh di bawah kualitas laki-laki berkepala plontos itu.

Tak pelak, Inter harus melaksanakan tranformasi besar. Jika jajaran direksi tak bisa diusik, saya hanya berharap ada lebih kejelian dalam acara transfer. Tak hanya sekadar menambal-sulam tim dengan menyesuaikan budget. Pun mengoptimalkan tim yang dimiliki, termasuk memberi kepercayaan lebih kepada bakat dari primavera.

Mengantisipasi krisis finansial, Inter harus mulai berpikir menjadi builder ketimbang buyer. Seperti yang dilakukan Barcelona dengan La Masia, atau beberapa tim lain semisal Ajax, West Ham United pun Sporting Lisbon. Memang buah dari jadwal ini tidak bisa dipetik secara instan, tapi setidaknya beberapa tahun ke depan, perubahan dalam acara transfer dan jadwal training bisa berjalan beriringan.

“I get knocked down. But I get up again. You’re never going to keep me down.”
Sepenggal lirik dari lagu Tubthumping milik Chumbawamba itu bisa menjadi citra umum apa yang harus dilakukan Inter. Setelah keperpurukan, Inter harus bangkit, salah satunya melalui perubahan. Jangan sungkan bercermin dari sang rival, Juventus, yang berdiri sesudah terdegradasi pada 2006. Juga mengakibatkan Liverpool atau Arsenal sebagai perbandingan. Dua tim yang belum juga bisa berdiri dari masa paceklik gelar. So, pilih berguru dari Juventus, atau mengikuti langkah Liverpool dan Arsenal? Opsi yang sulit, tapi harus dilakukan Inter.

Irawan Dwi Ismunanto (@IrawanCobain)
Penulis ialah jurnalis sepakbola yang juga seorang Interisti. Kamu bisa membaca tulisan-tulisannya di tabloid soccer.

sumber: http://www.interclubindo.com/2013/05/kami-jatuh-tapi-harus-bangkit-lagi/