Press "Enter" to skip to content

Terkini Cerita Ronaldo Si Fenomenal Di Inter Milan

Ada jutaan alasan mengapa Ronaldo Luis Nazario de Lima mempunyai julukan sebagai “The Phenomenon”. Bukan cuma kemampuannya yang fenomenal, kisah hidupnya juga. Kalau tidak bermain bola, mungkin ia hanya akan menjadi abang-abang pengangguran yang kerjanya cuma nongkrong di gang-gang sempit di daerah permukiman Rio de Janiero.

Sebagaimana plot sebuah film, kisah hidup Ronaldo juga terbagi menjadi tiga babak: titik puncak 1 – anti-klimaks – titik puncak 2. Apabila merunut kariernya di level klub, membela Real Madrid bisa disebut sebagai puncak karier sepakbolanya. Ia meraih dua gelar liga atau yang terbanyak ketimbang ketika membela kesebelasan lain. Apalagi, ia melakukannya sehabis memenangi Piala Dunia 2002 dan menjadi bintang di sana.

Meskipun begitu, Real Madrid sekalipun tak akan bisa menghapus tugas Inter Milan dalam karier sepakbola Ronaldo; mesi ia cuma meraih satu gelar Piala UEFA bersama Inter. Hanya satu gelar itu. Namun, di Inter-lah agaknya Ronaldo benar-benar mencicipi apa yang namanya hidup.

Ronaldo punya kombinasi dari kecepatan dan kekuatan. Ia bisa melewati bek lawan dengan kemampuan teknis yang dipadukan dengan kecepatan. Saat menjaga bola, ia pun tak gampang jatuh sebab postur tubuhnya yang menunjang.

Keluar Sekolah

Ronaldo yakni bungsu dari tiga bersaudara dari pasangan Nelio Nazario de Lima dan Sonia dos Santos. Kedua orang tuanya bekerja di perusahaan telepon negara, Telerj. Saat melahirkan anak pertama, Sonia berhenti bekerja.

Saat usianya 11 tahun, Nelio dan Sonia bercerai. Sepakbola pun dijadikan Ronaldo sebagai pelampiasan. Ia lebih banyak meninggalkan kelas dan menentukan bermain bola. Hal ini yang menciptakan Ronaldo tidak melanjutkan sekolahnya demi mengejar impiannya sebagai pesepakbola.

“Aku tak bisa mendapatkan kenyataan jikalau anakku cuma bermain bola. Masa depan menyerupai apa yang ia harapkan?” kata Sonia kala itu. “Aku selalu menemukannya bermain bola di jalanan dengan teman-temannya ketika seharusnya ia mencar ilmu di sekolah. Aku tahu, saya sudah kalah dalam pertempuran.”

Keputusan Ronaldo untuk meninggalkan sekolah memang tidak salah. Ia menjadi primadona di lini serang di tiap kesebelasan yang ia bela. Pernah suatu ketika ia mencetak 11 gol dari 12 gol yang dicetak oleh timnya.

Salah satu keinginan pesepakbola manapun biasanya membela kesebelasan asal daerahnya. Pun dengan Ronaldo yang ingin bermain untuk Flamengo. Terlebih idolanya, Zico, juga bermain untuk Flamengo di kurun 1980-an.

Ronaldo sempat mencoba berlatih di tim Flamengo Junior. Ia bermain sebaik mungkin biar bisa mendapatkan tempat di tim reguler. Namun, ketidakmampuannya membayar tiket bus, membuatnya mengurungkan niat bergabung dengan Flamengo.

Di usia 12 tahun, kepindahannya ke Sao Cristovao, menjadi salah satu momen penting dalam hidupnya. Pasalnya, di sana-lah ia bertemu dengan Reinaldo Pitta dan Alexandre Martins, agennya di masa depan. Karena pertemuan itu pula-lah, Ronaldo bisa bermain di kesebelasan profesional, Cruzeiro.

“Kami eksklusif melihat jikalau beliau bisa menjadi seseorang yang berbeda ketimbang pemain lain,” sebut Pitta.

Ronaldo bisa membawa Cruzeiro meraih gelar juara Liga Brasil pada 1993. Padahal, usianya kala itu masih 17 tahun. Semusim berselang, namanya sudah tercantum dalam skuat Brasil yang menjuarai Piala Dunia 1994. Memang, ia tak menjadi pemain inti, tapi momen tersebut memberinya pengalaman untuk bagaimana kembali meraih trofi paling bergengsi di dunia itu.

Setelah Piala Dunia 1994, Ronaldo tetapkan untuk hijrah ke PSV yang menjadi kesebelasan pertamanya di Eropa. Dua tahun di PSV dengan catatan hampir 1 gol tiap pertandingan, Ronaldo pun hijrah ke Barcelona. Namun, hanya semusim ia berada di Nou Camp, untuk kemudian pindah ke Inter Milan dengan status sebagai pemain termahal di dunia.

Di setiap kesebelasan, Ronaldo selalu mendapatkan rasa hormat dari penggemar dan media. Ia juga berusaha untuk memelajari bahasa setempat menyerupai Belanda, Spanyol, dan Italia.

“Kini, jikalau Anda ke tempat latihan dan meminta wawancara, beliau akan menjawabnya dengan bahasa Italia,” ujar Lucca Valdisseri wakil editor olahraga Corriere Della Sera.

Bersama Inter Milan dan Piala Dunia 1998

Di Inter Milan, Ronaldo terang menjadi harapan semua penggemar. Ronaldo dibutuhkan menjadi penuntas dahaga Inter yang puasa gelar Serie A selama delapan tahun.

Di trend pertamanya di Italia, Ronaldo eksklusif beradaptasi. Ia bisa mencetak 25 gol atau yang terbanyak kedua kala itu. Ronaldo bukan cuma jadi pujaan publik Giuseppe Meazza, tapi juga buat instruktur Inter, Luigi Simoni. Ronaldo yang masih berusia 20 tahun, diplot sebagai penyerang utama Inter. Ia juga menjadi penendang utama penalti dan tendangan bebas.

Setelah trend pertamanya usai, Ronaldo pun dipanggil instruktur Mario Zagallo sebagai penyerang utama Selecao untuk Piala Dunia 1998 yang dihelat di Prancis. Media menyebutnya akan bersinar di turnamen empat tahunan tersebut.

“Pada 1998, tidak ada yang sebertalenta Ronaldo yang secara mistik menggabungkan kekuatan, kecepatan, dan kemampuan yang diinginkan semua anak;di usia 21, harapan dan mimpi sebuah negara bersandar di pundaknya,” tulis Jacob Steinberg dari The Guardian.

Nubuat ini hampir menjadi kenyataan sebab sampai babak semifinal, Ronaldo sudah mencetak empat gol. Lalu, tibalah momen yang masih belum terjawab sampai ketika ini.

72 menit jelang pertandingan final, kertas susunan pemain mulai disebarkan. Perwakilan dari FIFA lantas terkejut sebab yang muncul justru nama “Edmundo” bukan “Ronaldo”.

Yang terkejut bukan cuma perwakilan FIFA, tapi juga rekan-rekan Ronaldo lain. Zagallo memang sempat memberi motivasi jikalau mereka bisa menyerupai Brasil yang memenangi Piala Dunia 1962 tanpa Pele. Bagaimanapun motivasi ini tak bisa dibilang berhasil sebab Brasil kehilangan referensi mereka di lini depan: si jimat yang justru terbaring sebab entah penyakit apa.

Tak masuknya Ronaldo ke dalam susunan pemain, menciptakan suasana riuh di ruang jurnalis. Pada anggapan awal, mereka menganggap Ronaldo mengalami cedera engkel, tapi terang tak semua percaya.

Pada kesudahannya kita semua tahu. Gelar yang ada di depan mata pun hilang. Tiga gol Prancis menciptakan Brasil merana. Mereka kembali dengan tangan hampa. Yang jelas, Ronaldo pun menjadi sorotan. Malah tidak sedikit yang menjadikannya sebagai biang kekalahan Brasil di final Piala Dunia 1998.

Memutari Kiper

Salah satu momen yang diingat dari Ronaldo yakni caranya mencetak gol yakni dengan memutari kiper. Momen tersebut bukan sekadar unik, tetapi sekaligus menjadi pertunjukkan kehebatan seorang Ronaldo. Ia bergerak dari tengah lapangan, mencari ruang, berhadapan dengan kiper, kemudian melewatinya sebelum melepaskan tendangan ke gawang.

Salah satu alasan mengapa ia bisa begitu sering melewati kiper yakni sebab ketepatannya mencari momentum dan kerja samanya dengan pengumpan. Ronaldo biasanya mendapatkan umpan terobosan di belakang bek lawan sehingga ia bisa eksklusif berhadapan kiper dan melewatinya.

Hal menyerupai ini terang memerlukan kepintaran tersendiri dari seorang penyerang. Ia harus tahu kapan momentum yang pas untuk berlari dan meminta bola. Ia juga harus mempunyai keyakinan dalam diri si pengumpan untuk percaya memberi umpan kepadanya.

Salah satu yang terbaik yakni ketika menghadapi Lazio di Stadio Olimpico pada trend 1997/1998. Ronaldo kala itu tinggal berhadapan dengan kiper Luca Marchegiani. Sebelum melewatinya, Ronaldo terlebih dahulu melaksanakan step over untuk mengelabui sang kiper, untuk kemudian melesakkan bola ke gawang.

***

Fase di Inter Milan bagaikan sebuah plot film bagi Ronaldo. Ia tiba sebagai pemain termahal di dunia. Di trend pertamanya, ia sudah menyesuaikan diri dengan sepakbola Italia dan menjadi pencetak gol kedua terbanyak di liga.

Di tahun yang sama, ia menjadi pesakitan. Ia berada di titik terendah dalam karier hidupnya sehabis gagal membawa Brasil menjuarai Piala Dunia 1998.

Kariernya di Inter Milan diakhiri dengan mengangkat Piala Dunia 2002. Ia melengkapinya dengan catatan sebagai pencetak gol terbanyak; dua golnya pula yang menjebol gawang Oliver Khan di babak kedua.

Sumber:  http://supersoccer.tv/news/kisah-ronaldo-si-fenomenal-di-inter-milan