Press "Enter" to skip to content

Terkini Biografi Javier Zanetti: Captain And Gentleman – Chapter Two: Early Signs

CHAPTER TWO
INTER : PERTANDA AWAL (EARLY SIGNS)

Cerita saya bersama Inter sudah dimulai jauh sebelum sekarang.

Saya hanya seorang anak sama menyerupai anak kecil lain pada umumnya, dan bagi saya, sepakbola berarti Kempes, Passarella, Fillol, Bertoni, Tarantini, dan Ardiles. Mereka ialah pendekar Argentina di Piala Dunia 1978. Diego Maradona, terang beliau ialah bakat gres bagi dunia sepakbola Argentina. Namun, bagi Luis Menotti, instruktur tim nasional dikala itu, Maradona masih terlalu muda untuk mengenakan seragam La Camiesta Albiceleste.

Sepakbola, pada masa itu, bagi saya ialah identitas diri, khususnya bersama Independiente, tim yang saya dan keluarga sangat gemari dengan luar biasa. Mengenai DNA, kami tinggal di Dock South (dock = dermaga), salah satu kawasan pinggiran Avellaneda propinsi Buenos Aires. Bagi kami penduduk sana, sepakbola ialah satu-satunya hal yang sanggup menciptakan hati kami bahagia, keluar dari segala penderitaan dan kesedihan hidup yang ada. Segala sesuatunya tergantung kepadamu, apakah akan menjadi fans klub Racing atau menggilai Los Diabolos Rojos, si setan merah, Independiente. Memang ada beberapa kelompok orang yang lebih menentukan mendukung tim-tim besar, menyerupai Boca Junior atau River Plate, namun jumlah mereka hanya sedikit. Saya jatuh cinta pada Independiente entah tanpa alasan yang jelas, seakan-akan saya memang terlahir untuk menjadi pendukung Independiente. Kamu tidak menentukan suatu tim, kau sudah mencintainya semenjak awal, tanpa syarat, tanpa kata ‘jika’ atau ‘tapi’. Jadi, sebelum benar-benar sanggup memahami alasannya, saya mendapati diri saya sedang sangat mengidolakan Ricardo Bochini, Antonio Alzamendi, dan Jorge Burrucha.

Saya lahir pada tahun 70-an, dan pada dekade tersebut, Independiente menjadi tim yang sanggup memenangkan segala kompetisi. Championships, Libertadores, Intercontinental. Walaupun begitu, ada dua pertandingan yang tidak sanggup dimenangkan oleh tim yang sudah mengoleksi begitu banyak trofi itu. Dua pertandingan berturut-turut yang sulit untuk kami lupakan. Pada tahun 1964 dan 1965, Independiente berhasil mencapai final kompetisi Piala Intercontinental, keduanya melawan Inter ketika masa La Grande bersama Herrera, Facchetti, Corso, dan Mazzola, dan Inter berhasil menjuarai semuanya.

Meskipun saya tidak menyaksikan sendiri dua pertandingan itu, orang-orang terus membicarakannya selama bertahun-tahun, termasuk ayah dan kakek saya. Kekalahan dua kali berturut-turut dari klub Italia, ditambah lagi ada seorang Argentina di sana, Helenio Herrera, rasanya sangat menyesakkan, sulit untuk ditrerima. Saat itulah saya pertama kali mengenal Inter, sebuah tim yang dianggap sebagai musuh, tim yang menghancurkan mimpi kami di level internasional. Bagaimanapun, demam isu kebencian pada dikala itu tetap menyisakan ruang bagi sebuah rasa hormat. Hanya Inter, tim yang bisa mengalahkan Independiente dua kali berturut-turut. Sungguh sesuatu yang jarang terjadi pada masa itu.

Untuk beberapa waktu lamanya, Inter hanyalah sebuah nama, layaknya hantu yang hanya melayang-layang di pikiran kami sebagai anak-anak. Pada dikala itu, televisi tidak menyiarkan liga Italia, jadi kompetisi tersebut hanya sebatas fantasi bagi kami. Saya hanya mengetahui sedikit hal perihal Inter. Saya melihat beberapa foto di sana sini, dan saya sungguh dibuat terheran oleh San Siro, sebuah stadion yang sangat mengesankan sampai-sampai saya takut ketika melihatnya. Dan sekarang, stadion ini menjadi rumah kedua bagi saya.

Pada pertengahan tahun 80-an, balasannya televisi mulai menyiarkan kompetisi liga Italia, walaupun hanya sedikit pertandingan yang ditayangkan. Semua berkat transfer Diego Maradona ke Napoli. Terima kasih pada El Pibe del Oro, karenanya Serie A menjadi salah satu kompetisi abnormal yang paling banyak diikuti di Argentina. Banyak di antara kami yang balasannya membagi dukungan pada klub-klub lokal dengan Napoli. Napoli menjadi klub yang paling dicintai orang Argentina, sebab pada tahun-tahun sebelumnya mereka juga membawa bintang Independiente, Daniel Bertoni. Inter juga mengalami kejayaan yang sama, melihat bagaimana Passarella, kapten timnas Argentina ketika menjadi juara dunia tahun 1978 juga bermain di sana. Di South Dock, kondisi menyerupai ini (kejayaan Inter) menjadi hal yang sangat menyebalkan bagi fans-fans fanatik dari Los Diabos Rojos. Bagi fans fanatik Independiente, Inter ialah sebuah klub yang arogan, lancang, dan sok berkuasa. Namun sekarang, saya menyadari kalau itu semua hanyalah evaluasi yang salah. Saya mempunyai keterikatan pada klub yang saya cintai. Cerita perihal Inter dan Independiente berjalan secara beriringan. Kedua tim itu terbentuk pada awal tahun 1900-an. Independiente dibuat oleh para ajudan toko yang murka sebab tidak dimasukkan dalam kelompok pedagang, sehingga memberi nama “Independiente” (kebebasan). Inter dibuat pada 1908, tiga tahun sesudah Independiente, oleh 40 penentang Milan, yang tidak baiklah dengan peraturan larangan bagi pemain abnormal untuk bermain di klub. Kedua semangat itulah yang tidak pernah surut dan selalu menjadi filosofi bagi kedua tim. Mereka ialah 2 tim yang sama : kuat, bermental juara, dengan sedikit kegilaan dan tidak sanggup diprediksi.

Seiring dengan berjalannya waktu, simpati saya kepada klub hitam biru semakin bertambah, namun belum hingga pada level mencintai. Ketika sepakbola hampir menjadi pecahan paling penting dalam hidup saya—bukan hanya sekedar hiburan—seorang pemain yang sangat saya idolakan tiba ke Inter : Lothar Matthaeus, benteng berpengaruh Jerman yang bisa mengubah hasil dan jalannya pertandingan sesuai dengan keinginannya. Seorang pemimpin yang tidak pernah menyerah. Bergomi mengatakan, “Jika Lothar ingin memenangkan suatu pertandingan, kami akan memenangkan pertandingan itu.” Namanya mulai dibicarakan di Argentina pada tahun 1986, ketika beliau begitu ketat menjaga Maradona pada Piala Dunia Meksiko 1986 sehingga Argentina hanya menjadi runner up. Pada final tahun abad 1980-an, ketika saya masih sebagai seorang berakal balig cukup akal yang bermimpi untuk menjadi pesepakbola professional, Matthaeus dan Maradona ialah pemain utama yang mewakili Inter dan Napoli, dua tim yang paling sering bersaing untuk mendapat gelar Scudetto. Orang-orang terang banyak yang lebih mendukung Diego. Bagi kami orang Argentina, beliau masih menyerupai yang kuasa hingga dikala ini. Begitu juga dengan saya, menyerupai yang lain yang begitu menggilai Maradona, saya tidak sanggup menutupi kalau saya juga mengagumi Matthaeus. Dari Matthaeus, saya melihat citra diri saya. Saya ingin menjadi sosok pemain menyerupai Matthaeus, seorang pemimpin.

Sungguh berkat Matthaeus, secara diam-diam, saya mulai menjadi Interista

* * *