Press "Enter" to skip to content

Terkini Biografi Javier Zanetti: Captain And Gentleman – Chapter Six

CHAPTER SIX
TO MILAN WITH L’AVIONCITO

Satu malam ketika kami sedang melaksanakan kunjungan ke Afrika Selatan bersama tim nasional Argentina, Daniel Passarella mengetuk pintu kamar saya. “Javi, Inter ingin membelimu,” ucapnya dalam satu kali tarikan napas, bahkan tanpa memberi saya waktu untuk berpikir apakah beliau sedang bercanda atau tidak. “Inter? Inter Milan? Tim yang pernah Anda bela? Tim yang dua kali mengalahkan Independiente? Tim di mana Matthaus pernah bermain?”

Ya, memang sempurna ibarat itu. Passarella tidak sedang berbohong atau bercanda. Seseorang yang memantau saya, kemudian melaporkan pada pihak administrasi Inter, ialah salah satu pembawa kejayaan Argentina : Antonio Valentin Angelillo, striker Inter pada masa transisi tahun 50 dengan 60an yang hingga ketika ini masih dikenal berkat 33 gol-nya dalam satu isu terkini di Serie A. Dia melihat ketika saya bermain di Banfield; saya tahu kalau Inter sedang mencari pemain di Argentina, namun beberapa nama pemain yang sedang bersinar ketika itu ialah Daniel Ortega dan Sebastian Rambert. Makara ketika Passarella memberitahu isu tersebut, saya justru merasa bingung. Saya segera menghubungi biro saya. Ternyata semua ini benar, Inter menginginkan saya. Hal yang perlu saya lakukan ialah hanya membubuhkan tanda tangan dan jalan ke Italia sudah terbuka.

Kemudian saya mengalami dilema. Di satu sisi, suatu kebahagiaan besar bagi saya berada semakin bersahabat dengan salah satu klub paling sukses di dunia. Namun, di sisi lain, saya takut meninggalkan rumah, meninggalkan keluarga, dan khususnya Paula. Dia masih sangat muda, masih duduk di dingklik sekolah, dan tentunya beliau mustahil mengikuti saya pindah ke Italia, minimal dalam waktu dekat. Hari-hari yang sulit bagi saya. Namun saya merasa kalau mungkin, kesempatan anggun ibarat ini tidak akan tiba dua kali. Jadi, saya mengambil kesempatan ini dan mengejar keinginan hidup saya.

Untungnya, saya mempunyai waktu dua bulan untuk menyiapkan segala sesuatu, dan ternyata saya tidak akan pergi sendirian untuk menjalani petualangan gres ini : selain saya, Inter juga mendapat Sebastian Rambert, yang biasa dipanggil l’Avioncito, si pesawat terbang, alasannya gaya selebrasinya sesudah mencetak gol. Rambert juga sudah menjadi teman saya di tim nasional. Orang-orang bepikir kalau kedatangan saya di Inter ialah sebagai bonus dari pembelian Rambert. Tapi sebetulnya bukan ibarat itu. Pertama, Sebastian tidak bermain di tim yang sama dengan saya, Banfield, tapi beliau bermain untuk Independiente (betapa beruntungnya dia). Kedua, Inter tidak membeli kami secara bersamaan sebagai pasangan, tapi dalam waktu yang berbeda. Dia tiba sesudah saya. Mungkin ini terlihat ibarat hal sepele, tapi bagi saya ini sangat penting. Faktanya, saya ialah pembelian paling pertama dari Massimo Moratti—yang kini ini menjadi presiden Inter—pada tahun 1995. Banyak sekali kritik dari fans ketika mereka mendengar nama saya. “Apa? Moratti ingin mengembalikan kejayaan masa kemudian Inter dan beliau tiba bersama Zanetti?” Saya memang pemain yang tidak banyak dikenal oleh orang. Bahkan fans hingga berkata kalau saya harus banyak makan roti terlebih dahulu sebelum menjadi pemain klub besar dunia. Bagaimana pun, keinginan Moratti untuk mendapat saya tetap kuat.

Selama masa promosi, Inter menaruh harapan pada pemain-pemain muda berlatenta dan pemain-pemain yang telah teruji kualitasnya. Selain Rambert dan saya, Roberto Carlos dan Paul Ince—salah satu gelandang tengah paling berpengaruh di Eropa—juga tiba di rumah tim hitam-biru. Kondisi tersebut membuat situasi yang sulit, alasannya pada ketika itu Bosman Law belum mulai berlaku. Makara setiap tim hanya boleh mempunyai maksimal tiga pemain asing. Dan kami berempat. Dalam keadaan ibarat ini, orang niscaya berpikir kalau saya lah yang akan dipinjamkan ke tim lain biar tulang saya lebih terbentuk. Tiga orang selain saya, mereka ialah pemain yang populer. Rambert telah banyak diberitakan di surat kabar maupun televisi secara terus menerus alasannya gol-gol indahnya di liga Argentina; Roberto Carlos, yang walaupun gres sedikit orang mengenalnya, ialah salah satu pemain muda yang sangat menjanjikan untuk dunia sepakbola; Ince, orang telah mengenalnya ketika bermain untuk Manchester United. Dan Zanetti? Sama sekali tidak ada yang tahu. Namun begitu, ternyata saya tetap di Inter, saya bermain untuk Inter. Pihak administrasi Inter segera memberitahu kalau mereka tidak akan menukar saya ke klub lain. Mereka percaya pada saya dan kemampuan yang saya miliki. Maradona juga ialah orang yang turut membantu saya, ketika dalam sebuah interview beliau menyatakan kalau “pembelian terbaik yang dilakukan oleh Inter ialah Zanetti.” Dan saya mulai untuk percaya pada diri saya sendiri.

Sudah terbiasa dengan kekacauan yang kadang terjadi di Buenos Aires, kondisi kota Milan tidak membuat saya kaget. Mungkin, alasannya kami, orang Argentina mempunyai separuh darah sebagai orang Italia. Dan meskipun ribuan mil jauhnya dari Argentina, kami merasa ibarat di rumah. Kakek-nenek buyut saya berasal dari Friuli, tepatnya kawasan Sacile yang berada di provinsi Pordenone. Saya gres mengetahuinya beberapa tahun yang lalu. Saya gembira dengan darah Italia saya, khususnya Friuli. Saya merasa mempunyai banyak kesamaan dengan para Friuliani : berkarakter kuat, handal, sederhana; abjad ibarat itulah yang juga saya bawa ketika sedang bermain di lapangan.

Oleh alasannya asal undangan tersebut, saya cepat merasa nyaman tinggal di Italia. Meskipun sendiri, keluarga dan Paula masih di Argentina, saya tidak mencicipi homesick yang terlalu besar. Ini berkaitan dengan budaya dan gaya hidup. Italia dan Argentina ialah dua tempat yang identik, alasannya itu kami sanggup cepat menyesuaikan diri dengan permainan sepakbola Serie A. Perbedaan paling mencolok dari dua negara ini ialah dari tempramen orang-orangnya. Orang Argentina berkarakter tenang; kami sangat menikmati sosialisasi antara satu orang dengan yang lain. Namun, di Italia, semua orang terkesan ibarat selalu terburu-buru. Di Buenos Aires, ketika kami membuat komitmen bertemu di tempat minum kopi, kami sanggup menghabiskan waktu beberapa jam untuk bercerita hal ini dan itu. Namun, di Milan, segala sesuatu selesai dalam lima menit, mengucapkan selamat tinggal, kemudian setiap orang kembali sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

Namun, pengalaman awal di Italia menjadi masa yang cukup rumit, termasuk wacana bahasa. Di Argentina, kami tidak biasa ditekan oleh media dan fans. Ketika masih bersama Banfield, di final pertandingan saya terbiasa diwawancara oleh reporter yang hanya membawa buku catatan kecil, dimintai sedikit tanda tangan dan foto, kemudian sesudah itu selesai. Hari ketika saya melaksanakan presentasi resmi untuk Inter ialah tanggal 5 Juni 1995 di Terrazza Martini, di mana di tempat itu aneka macam kerumunan fotografer, kameraman, jurnalis (dengan buku catatan, pengeras bunyi dan alat perekam; pada ketika itu, telepon seluler belum populer), dan para fans Inter meneriakkan nama saya. Bahkan, hujan pun tidak menghalangi antusiasme mereka. Bagi saya dan Rambert, ini ialah sensasi pertama dari petualangan berikutnya yang telah menunggu kami. Pertemuan secara eksklusif dengan Inter, menjadi pengalaman paling indah sekaligus gila dalam karir sepakbola saya di Italia.

* * *