Press "Enter" to skip to content

Terkini Biografi Javier Zanetti: Captain And Gentleman – Chapter Four

CHAPTER FOUR
Building a house, contracting a future
MEMBANGUN SEBUAH RUMAH, MENATA SEBUAH MASA DEPAN

Ketika kecil, saya bermain ibarat belum dewasa pada umumnya, suka memukul lampu dan beberapa perabot rumah, hingga menciptakan ibu saya putus asa, tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk menghentikan kenakalan saya. Kehidupan saya sangat diinspirasi oleh Sergio, abang saya : beliau yakni seorang anak yang berbakat, dengan bola berada di antara kedua kakinya, beliau sanggup melaksanakan hal yang jago untuk ukuran anak seusianya dikala itu. Hal yang menjadi problem adalah, kami tidak mempunyai tempat yang permanen untuk bermain sepakbola. Ada dua pilihan waktu itu : kau tetap tinggal di rumah dan menuruti semua peraturan orang tua, atau pergi bermain ke jalan. Setiap tempat sanggup kami gunakan untuk bermain sepakbola, meskipun bahwasanya dikala itu bukan waktu yang sempurna untuk berkeliaran di luar rumah. Dimulainya masa pemerintahan diktator pada tahun 1976, hanya ada sedikit alasan yang sanggup menciptakan kami bahagia. Saya tumbuh dalam kondisi yang suram tersebut, di tengah-tengah rasa takut. Saya masih terlalu kecil untuk memahami hal ibarat itu, tapi saya mencicipi ada yang salah dengan keadaan di sekitar saya. Bukan hal yang masuk akal kalau ada seorang ibu yang mengijinkan anaknya pergi keluar rumah dengan bebas. Setiap hari penuh dengan kegelisahan, ketakutan akan adanya penyerangan sehingga tidak sanggup untuk bertahan hingga tamat bulan. Saya melihat orang renta saya berjuang begitu keras untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Kami tidak kaya, tapi kami tidak pernah kehilangan hal-hal dasar mengenai kehidupan. Ayah saya bangun jam 5 pagi setiap hari kemudian pergi bekerja ke tempat konstruksi bangunan. Pekerjaan ayah saya yakni : tukang batu, pekerjaan yang mungkin akan saya jalani seumur hidup apabila saya hanya mendengarkan orang-orang yang meremehkan kemampuan bermain sepakbola saya. Dan untuk beberapa waktu lamanya, saya juga yakni seorang tukang batu. Ketika berumur 12 tahun, saya mulai membantu ayah saya. Hal-hal sederhana yang saya lakukan : mengaduk semen, membawa batu-bata, dan melaksanakan penyelesaian tamat di beberapa bab bangunan.

Saya menyukai pekerjaan ayah saya, sesuatu yang mudah dan berguna. Membangun rumah—ketika hal tersebut tidak dianggap sebagai sesuatu yang sepele—juga berarti membangun masa depan bagi banyak orang. “Proses Membangun Rumah” akan tetap menjadi filosofi dasar bagi hidup saya : memulai dari bawah hingga karenanya mencapai posisi tertinggi. Kita memulainya dari tanah, kemudian beralih kepada tumpukan watu bata, membangun dinding, dan karenanya mencapai bab atap. Ideologi inilah yang mendasari Pupi Foundation, sebuah yayasan sosial yang saya dan Paula dirikan untuk menawarkan santunan dan proteksi bagi belum dewasa miskin di tempat Lanus, salah satu tempat paling memprihatinkan di Buenos Aires. Anak-anak yakni dasar kami, dan bila kau ingin membangun rumah yang kuat, kau perlu memulainya dari mereka.

Ini yakni pelajaran pertama yang ayah berikan pada saya. Ketika kami masih menjadi anak sekolah, di bawah masa kediktatoran, di South Dock tidak ada lapangan sebagai tempat untuk kami sanggup bermain sepakbola. Kami coba memposisikan diri semampu kami. Tapi rasa lapar kami kepada sepakbola terlalu besar. Di erat rumah kami ada satu lahan kosong yang luas, kemudian mengapa itu tidak dimanfaatkan untuk dijadikan sebuah taman bermain di mana di dalamnya terdapat sebuah lapangan sepakbola? Ide tersebut muncul dari ayah saya, dan kemudian karenanya menjadi kenyataan. Dengan penuh kesabaran dan kesungguhan, serta pengalamannya yang berpengaruh sebagai seorang tukang batu, ayah—dengan dibantu oleh orang renta yang lain—mewujudnyatakan mimpi kami. Sebuah lapangan sepakbola baru, yang berjarak sangat erat dengan rumah. Akhirnya, belum dewasa mempunyai rumah bagi pilihan kami.
Dan di atas lapangan yang terdiri dari rumput serta pasir, semua ini dimulai.

Kami menghabiskan hampir seluruh masa kecil kami di sana. Setiap hari, sepanjang hari. Pertandingan yang tidak terbatas dengan kecepatan luar biasa. Kami membentuk tim sepakbola pertama kami, pasukan kecil dari Dock Sud : The Disneyland. Sebuah nama, sebuah rencana. Maradona tumbuh bersama Los Cebollitas (sebuah klub bau kencur di Argentina), yang berarti “the little onions”. Sedangkan saya, berada di tim jagoan dunia film kartun. Kami, orang Argentina, mempunyai imajinasi yang manis apabila berbicara mengenai nama. Berkat kompetisi ini, belum dewasa tidak lagi bermain di jalanan, dan kehidupan bertetangga kami menjadi semakin kuat. Di setiap pertandingan selalu saja ada alasan untuk merayakan : para ibu tiba untuk menonton, membawa Alfajore, camilan manis khas Argentina, dan bagi kami, dunia berputar di atas lapangan itu, ibarat luncuran peluru dari mimpi-mimpi kami.

Pada masa itu, ada satu memori yang akan selalu diingat melebihi hal-hal lainnya, salah satu hal terbaik dalam hidup saya. Ini akan terdengar ibarat dongeng dalam buku Cuore (judul buku dongeng anak-anak), namun semuanya memang benar adanya. Satu hari, hanya satu ahad sebelum pertandingan final yang akan menawarkan kami gelar juara liga, sepatu sepakbola saya rusak. Bukan hanya sobek atau ada lubang kecil : sepatu saya robek mulai dari depan hingga belakang. Sangat tidak mungkin sepatu itu sanggup diperbaiki kembali menjadi ibarat baru. Dan di rumah, kami tidak mempunyai cukup uang untuk membeli sepasang sepatu baru. Saya merasa sangat putus asa. Bagi saya, pertandingan nanti, berarti segalanya. Namun tanpa sepatu, apa yang bisa saya perbuat? Saya sudah pesimis tidak akan akan bisa bermain di pertandingan final. Tidak ada orang yang bisa meminjami saya sepatu, alasannya yakni pada dikala itu sepatu menjadi barang yang sangat berharga. Namun, lalu, ada keajaiban ! Suatu hari saya pulang ke rumah dan ayah muncul persis di hadapan saya membawa sepasang sepatu di tangannya. Sepatu yang sama dengan yang selalu saya gunakan, namun dengan satu perbedaan kecil namun begitu penting, seluruh bab yang sobek telah dijahit !! Ayah telah memperbaiki sepatu saya, dengan jarum dan benang, serta rela mengorbankan waktu berkerjanya.

Petualangan bersama The Disneyland tidak berlangsung lama. Selama bermain sepakbola, kami memperlihatkan permainan yang bagus, sehingga suatu hari beberapa orang dari Independiente tiba mengetuk pintu rumah saya. “Maukah kau tiba dan ikut bermain bersama kami?” Bayangkan betapa bahagianya saya dikala itu. Saya akan menjadi bab dari Setan Merah, mimpi saya menjadi kasatmata ! Selama tujuh tahun saya dengan penuh semangat mendukung Independiente, dengan sepenuh hati saya. Saat itu, tahun 1983, saya diresmikan sebagai pemain di Doble Visera, stadion milik Independiente yang terletak berlawanan dengan stadion milik klub Racing : hanya terpisah beberapa ratus meter, namun keduanya yakni dunia yang berbeda. Pertandingan pertama saya yakni pada turnamen Copa Libertadores. Independiente melawan klub dari Paraguay, Olimpia. Itu menjadi pertandingan yang hebat, kami berhasil memenangkannya. Di lapangan juga ada El Bocha, Ricardo Bochini, pemain yang sangat saya idolakan. Saya begitu dipenuhi dengan rasa bangga. Namun, mimpi saya untuk mengikuti jejak Bochini hanya berlangsung dalam waktu yang begitu singkat. Satu hari, saya mendapatkan sebuah isu yang mengakibatkan kemunduran terbesar dalam karir sepakbola saya. Para manajer dan teknisi Independiente merasa bahwa pada kenyataanya, saya ini terlalu kecil secara fisik untuk melanjutkan petualangan sepakbola. Saat itu saya berumur 15 tahun. Mimpi saya hancur, semua impian saya hilang, saya berhenti bermain sepakbola selama setahun, dan seperti sepakbola sudah hilang dari kehidupan saya. Saya begitu kecewa, sedih, dan hampir sama sekali tidak sanggup dihibur.

Selama setahun saya bekerja dan sekolah. Tapi jauh di dalam diri saya, saya terus mencoba membangkitkan semangat untuk bermain sepakbola lagi di lapangan, meskipun pada karenanya selalu gagal. Dan sekali lagi, ayah  membawa saya keluar dari masalah. Pada hari ketika saya pergi bekerja bersamanya, selama makan siang kami membicarakan mengenai banyak hal, ini dan itu. Dia kemudian bertanya pada saya, “Javi, kau bahwasanya ingin menjadi apa? Apa kau benar-benar serius memutuskan untuk berhenti bermain sepakbola? Lihatlah orang-orang di sekelilingmu yang percaya kau mempunyai kemampuan yang bagus, kau sanggup melakukannya. Kalau memang tidak berhasil di Independiente, mengapa tidak mencoba di tempat lain?

Kata-kata ayah tadi selalu memenuhi pikiran saya selama berminggu-minggu. Dan pada akhirnya, saya yakin. Buenos Aires yakni kota yang besar, tidak hanya ada Independiente. Saya akan mencoba untuk menemukan klub yang lain.

* * *