Press "Enter" to skip to content

Terkini Biografi Javier Zanetti: Captain And Gentleman – Chapter Five: The Tractor

CHAPTER FIVE
THE TRACTOR

Meskipun jauh dari lapangan sepakbola selama satu tahun, saya tidak kehilangan hasrat untuk bermain atau lupa bagaimana cara bermain sepakbola. Selama berhenti bermain, fisik saya justru lebih banyak dibangun. Melalui perjuangan yang saya lakukan bersama ayah di tempat kerja, otot saya menjadi lebih berkembang, dan tinggi tubuh saya juga bertambah beberapa centimeter.

Setelah memikirkannya berulang-ulang, saya menetapkan untuk kembali ke lapangan. Kita harus selalu tegar berdiri, bahkan dalam kondisi paling sulit sekalipun. Pelajaran itulah yang saya peroleh pada waktu itu, dan semenjak dikala itu, saya tidak pernah melupakannya. Kakak saya, Sergio, yang dikala itu sedang memulai karir sepakbolanya, menawarkan saya kesempatan yang anggun untuk kembali bermain sepakbola. Dia bermain bersama Talleres, sebuah tim kecil dari sebelah selatan Buenos Aires, tepatnya tempat Remedios de Escalada, tidak jauh dari Lanus, tempat di mana Diego Maradona tumbuh dewasa, dan beberapa tahun kemudian menjadi sentra dari PUPI Foundation.

Saya tidak ingin masuk tim hanya sebab abang saya juga bermain di tim itu : jadi ketika Sergio dijual ke tim lain, saya segera mengambil kesempatan, saya memperkenalkan diri dengan tekad dan kemauan yang kuat. Semuanya berjalan baik, saya berhasil masuk menjadi penggalan dari tim. Saya menghabiskan ekspresi dominan pertama di kompetisi junior, Divisi Empat, di mana saya diandalkan sebagai pemain pengganti ketika situasi genting. Di Independiente, saya hampir selalu bermain di posisi striker luar, sebuah kiprah yang sangat sesuai dengan abjad saya : seorang leggerino (si kecil yang gesit), sanggup berlari kencang, suka menggiring bola hingga ke depan gawang kemudian menciptakan crossing. Namun ketika di Talleres, tempat permainan saya menjelma first midfielder dan adakala juga berposisi di tempat pertahanan. Penetapan poisisi bermain saya gres terjadi pada ekspresi dominan berikutnya ketika saya dipromosikan ke tim utama. Satu tahun bermain di level Nasional B—setara dengan SerieB—telah membuka jalan saya untuk menjadi pesepakbola profesional.

Masalah utama saya pada dikala itu yaitu selain bermain sepakbola, saya juga harus memikirkan bagaimana cara untuk selalu sanggup membawa roti ketika pulang ke rumah. Saya selalu membantu perekonomian keluarga, dan kenyataannya yaitu ketika mulai serius bermain sepakbola, hal tersebut tidak kemudian membebaskan saya dari kewajiban sebagai anak. Jadi, saya menemukan pekerjaan baru. Dari tukang bangunan + pesepakbola menjadi pria pekerja + pesepakbola. Mulai pukul empat hingga delapan pagi, saya mengenakan seragam seorang pengantar susu, berjalan dari rumah ke rumah untuk mengantarkan botol-botol susu, dan ketika kiprah tersebut selesai, saya kemudian pergi ke sekolah. Pada sore hari, saya berlatih sepakbola. Ketika malam hari, saya dilanda kelelahan yang luar biasa. Hidup yang begitu sulit, namun saya melakukannya dengan penuh semangat sebab saya tahu, mungkin, ini akan menjadi kesempatan terakhir untuk sanggup menciptakan terobosan dalam karir sepakbola saya.

Pengorbanan besar itu berlangsung selama satu tahun, ketika saya bermain di tim junior. Ketika mulai dipromosikan masuk dalam tim utama, para manajer memberitahu mustahil jika saya terus melanjutkan acara yang menyerupai itu, bekerja dan bermain sepakbola dalam waktu yang bersamaan. Saya segera memberitahu mereka, bahwa bagaimana pun juga, saya tetap membutuhkan uang untuk membantu keluarga. Mereka meminta saya untuk tidak perlu khawatir lagi mengenai hal tersebut, dan sesudah itu saya menerima kontrak pertama sebagai pemain profesional. Musim pertama bersama pemain-pemain hebat saya lewati dengan baik. Dari 17 penampilan dan mencetak satu gol, menciptakan saya terlihat istimewa di antara pemain-pemain muda yang lain. Saat itulah saya mulai menerima nama panggilan “Pupi”. Hal ini muncul sebab keisengan abang saya, Sergio. Dia menamai saya dengan panggilan itu ketika ia masih bermain di Talleres. Pada dikala masuk ke Talleres, ada lima orang lain yang berjulukan Javier (selain saya), sehingga secara otomatis mereka menetapkan nama Pupi sebagai panggilan untuk membedakan saya dengan Javier yang lain. Tidak ada arti khusus untuk Pupi : hanya sekedar nama panggilan yang sanggup diucapkan dengan cepat, khususnya ketika sedang bermain di lapangan yang semuanya harus dilakukan dengan cepat.

Selain mengenai sepakbola, saya juga mulai menemukan sesuatu yang istimewa di area hidup saya yang lain. Ketika bermain di Talleres, saya mulai berkenalan dengan Paula, dialah seseorang yang alhasil menjadi perempuan terindah dalam hidup saya. Sama menyerupai kisah dalam dongeng yang berakhir bahagia, untuk memenangkan hati Paula saya perlu dibantu oleh seorang sobat berjulukan Roberto yang juga yaitu sobat satu sekolah Paula. Satu hari, Roberto mengajak saya untuk pergi minum kopi, Ketika kami hendak pulang, saya melihat Paula, dan rasanya menyerupai disambar petir. Saya mulai bertanya banyak hal mengenai Paula pada Roberto, hingga alhasil sesudah menerima banyak desakan, saya melihat Paula ketika sedang berlatih basket, olahraga yang dikala itu ditekuni Paula dengan serius. Mungkin memang sesama atlet sanggup saling memahami dengan baik satu dengan yang lain. Setelah latihan selesai, lagi-lagi dengan dibantu oleh Roberto, saya menemui Paula, dan alhasil kami menciptakan kesepakatan untuk bertemu lagi lain hari. Sejak dikala itu, perasaan dan emosi saya terasa menyerupai meledak-ledak, selalu berusaha mencari alasan apapun untuk sanggup bertemu Paula. Dan perasaan itu alhasil terbayar. Setelah mulai berkencan—saya berumur delapan belas dan Paula empat belas tahun—kami selalu bersama ke mana pun kami pergi.

Kembali ke dunia sepakbola, saya tidak perlu lagi bekerja untuk membantu perekonomian keluarga, dan bahkan saya menemukan cinta pertama saya. Akhirnya, kini saya sanggup meninggalkan masa-masa kelam yang telah menciptakan saya karam dua tahun lalu. Pengalaman di Talleres yaitu salah satu hal paling penting dalam hidup saya : dikala jelas itu muncul sesudah 20 tahun, alhasil pintu terbuka untuk saya bermain di liga utama Argentina. Pada ekspresi dominan panas 1993, saya mendapatkan banyak sekali macam tawaran. Banyak klub tertarik pada saya, termasuk Banfield, salah satu klub di distrik Lomas de Zamora yang mempunyai banyak sekali pendukung.

Ya, saya memang tidak punya kesempatan lagi  mengenakan seragam Independiente atau klub lain yang mempunyai sejarah kuat, namun mengenakan seragam ‘the humble’ Banfield (sebuah tim yang akan selalu berada dalam hati saya) yaitu sebuah kebahagiaan yang luar biasa, apalagi ketika mengingat masa-masa sulit yang telah dilewati. Dengan semangat dan antusiasme yang baru, sangat gampang bagi saya untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Dua instruktur Banfield dikala itu, Oscar Lopez dan Oscar Cavallero, menawarkan saya seragam bernomor 4, dan semenjak pertama hingga terakhir kali berseragam Banfield, saya tidak pernah menanggalkan nomor tersebut. Debut saya bersama nama-nama besar dalam dunia sepakbola terjadi di Monumental, stadion bersejarah pujian River Plate. Itu yaitu awal dari sebuah langkah-langkah besar berikutnya. Pada November 1994, Daniel Passarella, instruktur tim nasional Argentina, memasukkan nama saya dalam daftar pemain timnas untuk pertama kalinya. Rasanya menyerupai mimpi : sesudah setengah ekspresi dominan bersama para pemain profesional, saya alhasil menerima kesempatan dan kehormatan untuk mengenakan seragam Albiceleste. Debut saya bersama timnas tidaklah jelek : menang 3-0 melawan Chile di Santiago pada 16 November 1994. Saya megakhiri ekspresi dominan pertama di Banfield dengan mencatat 37 penampilan dan mencetak satu gol. Musim berikutnya masih saya jalani bersama klub yang sama, dengan alur kisah yang sama dengan ekspresi dominan sebelumnya. Hanya saja, di ekspresi dominan kedua saya mulai menerima julukan baru, yaitu El Tractor, the tractor. Di Argentina, hampir semua pemain mempunyai julukan : El Cuchu, El Cholo, El Jardinero, El Pocho, El Piojo. Victor Hugo Morales, komentator legendaris yang menyiarkan kehebatan Maradona, yaitu orang yang menawarkan julukan gres tersebut pada saya, sebab ia melihat kaki saya yang begitu besar lengan berkuasa  (terima kasih kepada semua pihak yang telah melatih anak pria lemah ini hingga menjadi besar lengan berkuasa menyerupai sekarang). Cara saya bermain di lapangan menyerupai dengan traktor : berlari tanpa mempedulikan siapa yang ada di sekeliling saya, dan sulit untuk menghentikan atau menjatuhkan saya. Itulah yang ada di dalam bayangan Morales mengenai persamaan saya dengan traktor.

Musim kedua bersama Banfield, saya selalu masuk starting line up. Ketika di Banfield saya juga sempat mencicipi bermain bersama Julio Cruz, yang dikala itu juga sedang memulai karir sepakbola profesionalnya sebagai seorang striker. Beberapa tahun kemudian, ternyata kami bertemu kembali sebagai pejuang di klub yang sama, namun jauh melintasi samudra, mengenakan seragam garis hitam-biru vertikal.

* * *