Press "Enter" to skip to content

Terkini Bambang Pamungkas: Interista Sejati Semenjak 1990

Penulis: bepe, 25 March 2010

Qantas Airways QF 051 Jakarta – Sydney, 27 Feb 2010, 01:43 WIB..

Keadaan di dalam pesawat Qantas Airways yang saya tumpangi ketika ini, sanggup dikatakan sangat membosankan, film-film yang diputar dalam penerbangan kali inipun berdasarkan pendapat saya juga kurang menarik. Semua bertambah menjemukan ketika lampu di kabin sudah mulai dipadamkan, di sebelah saya Markus mulai nampak tertidur dengan lelapnya, Ismed dan Firman yang berada di depan dan belakang saya, juga nampak terbuai dengan bunyi dengkuran mereka masing-masing…

Sedangkan saya sendiri..?? Masih dengan penyakit usang saya, yaitu susah tidur dalam pesawat, jikalau menempuh perjalanan yang lebih dari 3 jam. Dan ibarat biasa, sayapun berinisiatif mengeluarkan sebuah barang kesayangan saya, yaitu laptop Toshiba M600 butut berwarna putih, yang sejujurnya sudah tidak lagi tampak berwarna putih…

Saya yaitu salah satu penggemar Fariz RM, lagu-lagu dia sudah dekat di pendengaran saya semenjak di dingklik sekolah dasar. Keadaan pesawat yang membosankan ini menawarkan sebuah wangsit kecil di kepala saya, wangsit mengundang Mas Fariz untuk melaksanakan konser kecil di dalam pesawat ini. Bukankah tokoh kanak-kanak Barney selalu berkata “Use your imagination”, atau kurang lebih berarti “Gunakan imjinasimu”…

Maka tanpa ragu sayapun menyalakan iTunes dalam laptop saya, dan mulai memutar lagu-lagu Fariz RM. Maka tembang-tembang lawas ibarat Barcelona, Antara Kita, Nada kasih, Cinta Kian Menepi, Hanya, Batas Rindu, dll pun mulai melantun menemani kesunyian perasaan saya malam ini…

Saya menentukan mas Fariz untuk menemani saya malam ini, bukan tanpa alasan. Alasan pertamanya adalah. Beberapa hari yang lalu, saya sempat membaca gosip di sebuah media, jikalau Fariz RM akan melaksanakan konser di Makassar, ini yaitu konser pertamanya sehabis 2 tahun dia vakum menyanyi. Alasan keduanya adalah, pertama kali saya mulai mengenal lagu-lagu Fariz RM yaitu pada sekitar awal tahun 90an…

Dan pada kesempatan malam ini, saya ingin mengajak rekan-rekan sekalian untuk kembali ke masa 20 tahun di belakang kita. Saat dimana saya berkembang dari seorang bocah kecil yang mulai beranjak remaja, dan mulai tertarik serta menyukai banyak sekali hal, walau dengan dasar yang samar, abnormal atau bahkan tidak masuk logika sama sekali. Ditemani lagu-lagu usang tersebut, jari jemari sayapun menari diatas tuts laptop butut tersebut dan mulai menceritakan sebuah kisah yang terjadi 20 tahun yang lalu…

Getas, Kab. Semarang: pertengahan tahun 1990..

Seperti yang pernah saya kisahkan sebelumnya, saya mulai berguru bermain sepakbola dengan baik dan benar semenjak usia 8 tahun. Sebagai seorang anak kecil yang mulai menyebabkan sepakbola sebagai sebuah hobi, maka sudah sewajarnya jikalau saya juga ingin mempunyai pemain idola, klub favorit serta negara yang saya dukung….

Pemain favorit saya yaitu Paul Gascoigne. Saya mulai menyukai pemain ini, semenjak pertama kali saya melihat Gazza bermain untuk Inggris, di Piala Dunia Italia 1990. Sedangkan negara yang saya dukung ketika itu yaitu Argentina, alasannya cukup sederhana, sebab dalam tim Argentina terdapat seorang pemain abnormal berjulukan Diego Armando Maradona…

Serta satu hal lagi, ibu saya pernah membelikan sebuah kaos bernomor punggung 10 dengan gambar Maradona di cuilan depannya. Baju yang boleh dikatakan, akan saya pakai minimal 3 hari dalam hitungan satu ahad (cuci – kering – pakai – basuh – kering – pakai dst), hingga kaos tersebut terlihat lusuh dan memudar…

Sedang untuk klub favorit, saya sendiri masih sangat kebingungan. Saat itu satu-satunya terusan TV di Indonesia (TVRI) hanya menyiarkan partai-partai antar negara, ibarat Piala Eropa ‘88 atau Piala Dunia ‘90. Hal tersebut menciptakan saya kurang mengerti, atau malah tidak mempunyai acuan sama sekali, wacana klub-klub yang hebat di Eropa atau belahan dunia yang lain…

Hingga sampailah pada suatu pagi, ketika ibu saya pulang dari pasar dan membawa buah tangan nasi jagung kegemaran saya. Nasi tersebut di bungkus dengan daun jati yang dilapisi dengan kertas koran di cuilan luarnya. Setelah selesai menyantap nasi jagung tersebut, sayapun berniat membuang bungkusnya ke kawasan sampah. Tanpa sengaja saya melihat gambar 2 pesepakbola di kertas koran pembungkus nasi tersebut, dan seketika sayapun mengurungkan niat saya untuk mencampakkan bungkus nasi tersebut ke kawasan sampah…

2 pemain tersebut yaitu Lothar Herbert Matthaus dan Franklin Edmundo Rijkaard. Matthaus memakai seragam berwarna biru hitam bertuliskan MIZURA di dadanya, sedang Rijkaard memakai seragam berwarna merah hitam bertuliskan MEDIOLANUM. Setelah saya baca dengan lebih seksama, saya gres tahu jikalau kedua pemain tersebut bermain untuk Inter Milan (Matthaus) dan AC Milan (Rijkaard). Kedua tim tersebut akan bertempur dalam derby kota Milan (yang tentunya sudah terlewat, sebab kertas tadi hanyalah selembar koran bekas)…

Saat itu abang ke-3 saya (Tri Agus Prasetyo) menjelaskan kepada saya, jikalau 2 tim tersebut yaitu yang terbaik di Italia ketika itu. Inter Milan mempunyai Trio Jerman (Lothar Mattheus, Jurgen Klinsmann dan Andreas Brehme) sedang AC Milan mengandalkan trio Belandanya (Marco Van Basten, Ruud Gullit dan Frank Rijkaard). Kemudian sayapun bertanya, “Mas bagusan mana, Inter Milan apa AC Milan..??”, balasan abang saya ketika itu adalah, “Ya bagusan AC Milan kemana-mana lah”, “Oh oke” itu yaitu reaksi singkat saya ketika itu…

Kertas tersebut saya simpan di resleting luar tas sekolah saya. Jika ada waktu luang , saya selalu menyempatkan diri untuk melihatnya kembali, dan beberapa hari kemudian saya berkata pada diri saya sendiri, mengapa saya tidak menjadi pendukung salah satu klub ini saja. Inter Milan atau AC Milan sama saja lah, yang penting mulai kini saya punya klub jagoan, gumam saya pada diri sendiri ketika itu…

Setelah melihat gambar tersebut berulang-ulang dan dengan seksama, alhasil saya tetapkan pilihan kepada Inter Milan. Alasannya adalah, dimata saya baju Inter Milan lebih anggun daripada baju AC Milan. Kombinasi warna Biru dan Hitam terasa lebih lembut tetapi mematikan, dibanding Merah Hitam yang memberi kesan galak serta kasar…

Saya sendiri kurang begitu paham, apakah opini tersebut menyembul sebab terbawa oleh aura sang pemakai (Matthaus dan Rickaard). Akan tetapi satu hal yang pasti, saya sangat menyukai warna biru, sehingga apapun yang berunsur warna biru akan terkesan anggun dan indah di mata saya…

Maka semenjak itulah saya menjadi pendukung Inter Milan, walaupun ketika itu sejujurnya saya kurang begitu paham atau malah tidak tahu sama sekali, dengan klub berjulukan Inter Milan beserta para pemainnya. Yang saya tahu adalah, Inter Milan mempunyai seragam yang anggun dan saya menyukainya…

Jika gambar yang berada di dalam koran bekas ketika itu yaitu pemain Sampdoria, Atalanta, Chelsea, Boca junior, atau tim lain yang mempunyai seragam berwarnya biru, maka saya rasa saya juga akan menjadi pendukung salah satu klub tersebut ketika ini…

Terdengar lucu bahkan malah terkesan abnormal memang, akan tetapi pada kenyataannya itulah yang terjadi. Dan semenjak ketika itu , sayapun mulai mengikuti sepak terjang klub kebanggan saya tersebut, yaitu Inter Milan. Perlahan-lahan sayapun mulai mengenal nama-nama ibarat Giuseppe Bergomi, Walter Zenga, Roberto sosa, Roberto Carlos, Aldo Serena, Vladimir Jugovic, Youri Djorkaeff, Diego Simeone, Dennis Bergkamp, Gianluca Pagliuca, Benoit Cauet, Ivan Zamorano, Ronaldo, Christian Vieri, Aron Winter, Nwankwo Kanu, Roberto Baggio, Javier Zaneti, dll…

Sampai sekarang, saya tetaplah seorang Interista. Banyak orang berbicara jikalau Inter Milan yaitu kuburan para pemain hebat, artinya banyak bintang hebat yang akan meredup jikalau bermain bersama Inter Milan, sejujurnya saya tidak perduli. Ketika Inter terseok-seok dan hanya menjadi klub medioker yang susah menjadi juara, saya sama sekali tidak risau. Ketika bintang-bintang top silih berganti pergi meninggalkan Inter, saya juga kurang begitu menghiraukannya….

Satu hal dasar yang menciptakan saya menyukai Inter Milan adalah, sebab Inter Milan mempunyai warna seragam yang anggun (Biru dan Hitam), mengenai siapapun pemainnya atau siapapun pelatihnya, saya sendiri kurang begitu tertarik. Saya akan selalu mendukung Inter Milan, dengan siapapun pemainnya dan siapapun pelatihnya, serta apapun prestasinya. Satu-satunya hal yang mungkin akan menciptakan saya berhenti mendukung Inter Milan adalah, jikalau suatu ketika nanti Inter Milan sudah mulai meninggalkan seragam kebesarannya Biru dan Hitam, dan menggantinya dengan warna yang lain…

Saya memang Interista sejati, dan saya akan murung jikalau Inter Milan kalah dalam suatu pertandingan. Akan tetapi jauh di dalam lubuk hati saya, saya akan merasa lebih murung jikalau Persija Jakarta yang kalah bertanding, dan akan jauh lebih murung lagi jikalau Tim Nasional Indonesia yang kalah dalam pertempuran…

Mengapa demikian..?? Karena pada kenyataannya kecintaan saya terhadap Inter Milan, tidak bisa mengalahkan cinta saya terhadap Persija Jakarta, apalagi kecintaan saya kepada Tim Nasional Indonesia…

Internazionale Milano ; Una storia importante..

Selesai…

sumber