Press "Enter" to skip to content

Terkini 7 Alasan Inter Akan ‘Juara’ Demam Isu Ini Versi Mas Anton

Oleh : @AntonRijalFikar

Halo kalian para Interisti sehat?

Jelas sehat dong. Sejauh ini dalam empat giornata, Inter berhasil ada di posisi ketiga klasemen di bawah Napoli dan Juventus dengan poin yang sama, hanya kalah selisih gol. Inter juga berhasil mencetak 10 gol, dan hanya kebobolan satu gol, paling sedikit di antara klub Serie A lainnya.

Jelas ini akan menyebabkan situasi harap-harap cemas, apakah klub kesayangan kita di simpulan ekspresi dominan akan menjadi juara? Ataukah kita akan menjadi pesakitan lagi dengan terdampar di papan tengah klasemen? Namun mengingat kita yaitu salah satu fans paling sabar di jagat sepak bola bersama Kopites dan The Gooners, jadi lebih baik harapannya disimpan terlebih dahulu. Saya tentu tahu rasanya ketika kita diberi keinginan untuk pacaran bertahun-tahun dengan seseorang, namun di ujung jalan malah menikah dengan yang lain. Ya, mental kita baja, kepala kita memang batu.

Optimis memang, tapi berdasarkan saya, Inter ekspresi dominan ini akan jauh berbeda dibandingkan tujuh ekspresi dominan sebelumnya. Mengapa? Karena saya mempunyai beberapa analisis mengapa Inter akan juara ekspresi dominan ini.

1. Keberadaan Teknologi VAR

Susah untuk dipungkiri, salah satu faktor Inter susah bersaing di liga yaitu perihal keputusan wasit. Banyak statement yang menyatakan Juventus selalu diuntungkan dengan keputusan wasit sementara Inter sebaliknya. Sebut saja bencana ekspresi dominan 1997/1998 dimana Ronaldo dihajar Mark Iuliano di kotak penalti dan tidak berbuah tendangan 12 pas, sehingga Inter kalah 0-1 dan Juventus pun scudetto. Atau ketika gol Sulley Muntari dianulir di ekspresi dominan 2011/2012, padahal terang di video rekaman pertandingan bola sudah melewati garis gawang sebelum ditinju keluar oleh Buffon. Juventus pun scudetto.

Untungnya, di ekspresi dominan 2017/2018, Serie A mulai menerapkan Video Assistant Referee (VAR) sebagai pembantu wasit di tiap pertandingan. Fungsi dari VAR sendiri yaitu untuk meninjau keputusan wasit kepala dengan melihat rekaman video instan. Bayangkan, keputusan terjadinya gol dan prosesnya, proteksi tendangan penalti, proteksi kartu kuning dan merah, semua sanggup ditinjau ulang eksklusif selama pertandingan. Dampak dari VAR sendiri pun mulai terasa pada Juventus di dua pertandingan ketika melawan Cagliari dan Genoa, mereka menderita 2 penalti –yang satu gagal berbuah gol sementara yang satu lagi gol. Sementara Inter mendapat 1 hadiah penalti yang berbuah gol sesudah 5 menit konsultasi bersama VAR ketika melawan SPAL. Hal ini di musim-musim yang kemudian merupakan kemustahilan untuk Inter, ketika tanpa VAR, Inter mungkin gres sanggup hadiah penalti sesudah giornata 20-an.

2. Bersama Spalletti, Jantung Kita Akan Lebih Sehat

Di musim-musim sebelumnya, darah Anda mungkin terbiasa terpompa dengan deras ke seluruh badan ketika Inter mulai bertanding. Skenarionya kurang lebih sama: Gol-gol yang dicetak oleh Icardi, terbayar lunas dengan agresi konyol di lini belakang pada menit-menit akhir. 3 poin pun melayang seiring peluit simpulan pertandingan. Rambut-rambut rontok, piring dan gelas pecah berserakan, napas naik-turun, kadang panas-dingin, pada dasarnya tidak sehat-lah. Bersyukurlah kalian wahai Interisti garis tua, bersama Spalletti, Anda tidak perlu sering-sering klaim BPJS untuk cek tensi darah, minta surat ijin sakit ke dokter ketika hari senin alasannya yaitu aib di-bully teman sekantor, atau menciptakan banyak alasan seperti:

“Yang penting kami pernah treble winner!”

“Kami tidak pernah turun ke Serie-B”

“Yang penting presiden kami orang Malaysia! Eh, maksud kami, Indonesia!”

Tidak. Tidak perlu lagi. Apa yang Spalletti berikan ke kita, juga ke tim, yaitu sebuah kestabilan. Pekerjaan yang Spalletti tunjukkan ekspresi dominan kemudian bersama AS Roma yaitu jaminan mutu dari CV seorang instruktur pekerja keras merangkap psikolog, merangkap motivator, dan komunikator. Ketika berbicara eksternal kepada pers, Spalletti akan memberikan apa yang ada dalam tim secara terang dan lugas, tanpa bertele-tele. Ketika berbicara pada timnya, ia akan menyempatkan diri untuk mengobrol secara empat mata perihal kekurangan yang harus diperbaiki. Apabila masih ngeyel dan ndablek juga, ia tak akan segan untuk mencadangkan pemain tersebut sampai sadar. Ingat apa yang terjadi pada Totti di ekspresi dominan terakhirnya? Seperti itulah Spalletti. Ingat posisi klasemen Roma ekspresi dominan kemarin? Seperti itu jugalah Spalletti. Demi menjaga kestabilan timnya, ia tidak akan pernah peduli dengan komentar orang yang tidak sejalan dengan dirinya dan timnya.

3. Superisic

Sejauh ini kesuksesan Inter di mercato bukan diukur dari keberhasilan mendatangkan Dimaria, Schick, Keita, Moura, Sanchez, Berardi, Bernardeschi, Salah, Atep, atau Zulham Zamrun, namun ketika berhasil mempertahankan Ivan Perisic. Iya Perisic, yang hanya dihargai 48 juta paun oleh klub Manchester sialan itu. Cobalah tengok ekspresi dominan yang sedang berjalan ini. Ivan Perisic dalam 4 match sudah berkontribusi 3 gol dan 3 assist. Itu berarti 60% dari total gol Inter ketika ini yaitu donasi dari hanya seorang Ivan Perisic. Coba sebutkan pemain Manchester United mana yang bisa berkontribusi semasif itu? Mkhitaryan? Lukaku? Pogba? Meh. Pemain EPL memang selalu overrated.

Oke maaf, saya sering emosi jikalau membahas klub EPL. Kembali lagi ke Perisic. Ya, Ivan Perisic memang super. Ketika Icardi mulai buntu di kotak penalti, ia akan muncul menyisir dari sisi kiri kemudian ke tengah dan boom! Maka terjadilah gol atau assist. Bersama Icardi, ia telah berubah menjadi menjadi partner ideal sesudah periode Icardi – Kovacic dan Icardi – Palacio. Hanya instruktur Jerman absurd yang tega untuk mencadangkan Perisic dari menit pertama untuk seorang Eder. Oh iya, ini maksudnya buatmu, Frank De Boer.

4. Sang Regista

Seumur saya menikmati Inter bertanding, berdasarkan saya Inter tidak pernah benar-benar mempunyai sosok seorang regista. Di negara yang kerap memuja sosok fantasista ibarat Totti dan Del Piero, atau attacante ibarat Ronaldo dan Vieri, atau juga trequartista ibarat Kaka dan Veron, regista yaitu sosok yang cukup langka. Jauh dari glamornya selebritis lapangan hijau yang kerap memukau lewat aksi-aksi skillful di lapangan, tugas regista yaitu tugas sutradara dari balik layar. Layaknya Pirlo dan Veratti, Inter kesannya menemukan sosok ini pada diri Borja Valero.

Ketenangan, visi, dan kemampuannya dalam mengalirkan bola, menciptakan Inter kepincut untuk mendatangkan Valero dari Fiorentina meskipun usianya tidak lagi muda. Rupanya administrasi Inter cukup terbawa romansa Juventus ketika berhasil mendatangkan Pirlo dari Milan. Borja Valero, meski tidak seflamboyan Pirlo, ia mempunyai kematangan yang cukup untuk menjadi jenderal di lini tengah. Kedatangan seorang Valero bahkan menciptakan Spalletti yakin jikalau ia tidak membutuhkan sosok gelandang pengangkut air ibarat Medel atau Kondogbia. Sudah cukup Inter berjudi dengan Banega di ekspresi dominan lalu. Kini bersama Valero, Inter siap menjajah setiap jengkal lini tengah tim lawan manapun.

5. Tiga Lapis Tembok Baja

Milan Skriniar memang fenomenal. Ketika Inter mengumumkan telah mencapai komitmen dengan Sampdoria sebesar 30 juta euro untuk mengangkut Skriniar, saya bertepuk tangan. Di mata saya, Skriniar mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki pasangan duet Miranda sebelumnya, Ranocchia – Juan Jesus – Andreolli – Murillo – Medel. Dengan tinggi 187 cm, Skriniar berpengaruh di duel udara, sekuat Ranocchia dan Andreolli. Memiliki bobot seberat 80 kg menciptakan Skriniar tidak takut untuk body charge dengan penyerang manapun ibarat Medel. Kemampuannya untuk mendribble bola bahkan jauh lebih manis dari Juan Jesus. Aerial tackle-nya pun higienis dan tidak sesembrono Jeison Murillo. Short pass-nya secara statistik bahkan lebih baik dibandingkan dengan kompatriotnya, Miranda. Insting mencetak gol-nya? Mammamia! Di MSK Zilina selama 93 pertandingan, ia melesakkan 13 gol. Di Inter, hanya dalam dua pertandingan terakhir, Skriniar berhasil menggetarkan mistar gawang dan mencetak satu gol. Intinya dengan segala kelebihannya, Skriniar yaitu bek masa depan Inter, jikalau tidak dijual ke Real Madrid, PSG atau Barcelona tentunya.

Miranda, kapten timnas Brasil, merupakan sosok mentor yang sangat ideal untuk Skriniar sebelum kemampuannya habis digerogoti usia. Ketenangan, kemampuan membaca arah serangan lawan, serta leadership secara gampang ditularkan kepada Skriniar. Kali ini Miranda tidak perlu khawatir, Skriniar mempunyai spesifikasi prosesor dan RAM yang lebih tinggi dibandingkan Ranocchia, Juan Jesus, Medel, dan Murillo.

Di belakang mereka berdua, Samir Wakabayashi pun bisa lebih santai di bawah mistar gawang. Tidak perlu banyak mengumpat, melompat, apalagi melaksanakan banyak evakuasi sesering ekspresi dominan lalu. Trio Skriniar – Miranda – Wakabayashi ini sudah teruji paten dalam empat pertandingan terakhir dengan mencatatkan rekor 3 kali cleansheet dan hanya kebobolan satu gol.

6. Tiga Super Sub

Para Interisti garis bau tanah nan keras mungkin ingat jikalau Inter pada medio 2003-2009 pernah punya sosok super sub fenomenal pada diri Julio Cruz. Bayangkan ketika pada masa itu lini depan Inter disesaki striker sekelas Vieri, Adriano, Ibrahimovic, Recoba, Crespo, dan Martins, tapi Julio Cruz masih setia bertahan di kursi cadangan. Anda tahu kenapa? Sudah menjadi pakem instruktur ketika itu ketika Inter mulai buntu, masukkan saja Cruz, pasti dia akan mendedikasikan gol yang berujung pada kemenangan Inter.

Inter pun ekspresi dominan ini akan mempunyai tiga super sub dalam diri Joao Mario, Eder dan Padelli. Mengapa? Pertama, Joao Mario mungkin akan lebih sering diplot sebagai trequartista di belakang Icardi, namun kemampuan Joao Mario dalam menghasilkan assist dan gol semenjak ekspresi dominan kemudian selalu lebih banyak ketika ia masuk ke lapangan dari kursi cadangan. Mungkin dia lebih nyaman memperhatikan situasi pergerakan tim dari bench sisi lapangan, kemudian menyimpulkan solusi, kemudian ketika ia masuk hanya tinggal mempraktekkan apa yang ada di lapangan. Kedua, idem dengan Eder, semenjak ekspresi dominan lalu– Anda juga bisa membuktikannya di tim nasional Italia– Eder akan lebih berkhasiat ketika dimasukkan di menit-menit kritis. Banyak gol penting yang akan ia hasilkan ekspresi dominan ini.

Ketiga Padelli. Mengapa Padelli? Itu semata alasannya yaitu Handanovic mempunyai pengganti yang sepadan dalam diri Daniel Padelli. Sebelum kedatangan Joe Hart, Padelli yaitu penjaga gawang utama di Torino. Sedikitnya Padelli mencatatkan 33 kali bermain di tiap ekspresi dominan dengan rataan menit sekitar 3000an. Pada ekspresi dominan 2013-2014, Padelli selalu bermain di setiap pertandingan yang Torino jalani sampai berujung pada kualifikasi Europa League. Penampilan apiknya di ekspresi dominan itu seolah terbayarkan ketika ia mendapat anugerah penghargaan Goalkeeping Revelation of The Season dari Italian Sport Awards pada tahun 2014. Bergabungnya dia ke Inter seolah menjadi reuni ekspresi dominan 2011-2012, dimana ia juga menjadi penjaga gawang cadangan dari Handanovic di Udinese.

7. Skuad Yang Ramping

Dengan hanya bermain di 2 kompetisi lokal, menciptakan administrasi membentuk skuad Inter ekspresi dominan ini dengan sangat ramping. Dalam deretan kesukaan Spalletti, 4-2-3-1 di hampir setiap posisi, skuad ini mempunyai sedikitnya 2 pemain untuk bergantian menjadi starter dan pemain pengganti. Untuk lebih jelasnya Anda sanggup melihat sketsa deretan ini.

Pemain yang bertanda biru, Anda akan sering melihat mereka mengisi starting line-up sepanjang ekspresi dominan ini. Pemain yang bertanda hitam, yaitu pemain yang akan secara bergantian mengisi line-up ketika pemain bertanda biru sedang kelelahan atau performanya sedang angin-anginan. Sementara pemain bertanda oranye, yaitu pemain yang bisa saja mengisi posisi tersebut, utamanya ketika Mister Spalletti sedang putus asa atau kondisi benar-benar darurat.

Dengan skuad ramping yang hanya berisikan 23 pemain ini, dipastikan tidak akan ada lagi pemain yang ngambek dan putus asa ibarat Jovetic, Kondogbia atau Gabi-seret-gol. Pemain Primavera ibarat Vanheusden, Valietti dan Pinamonti punya kesempatan untuk mencari pengalaman dalam pergantian dengan seniornya. Dua pemain senior cadangan dengan status Lord ibarat Ranocchia punya waktu yang cukup untuk membalas haters di kolom komentar akun media sosialnya, dan Lord Nagatomo, tidak akan ibarat ekspresi dominan kemudian dimana ia terlalu sering bermain sebagai inti, ekspresi dominan ini dia akan lebih fleksibel mengatur jadwalnya dalam mengisi organ tunggal keliling kampung.

Jika semua bisa bermain, semua akan senang. Jika para pemain senang, tidak akan ada friksi. Jika tidak ada friksi, suasana internal klub akan positif. Jika suasana internal klub positif, saya rasa instruktur akan dengan gampang mengatur fokus skuadnya dalam mencapai sasaran ekspresi dominan ini, yaitu lolos ke Liga Champions.

“Loh, kok cuma lolos Liga Champions? Bukannya di judul goresan pena ini ‘Alasan Inter Akan Juara Musim Ini?’ Dari sederet alasan yang diungkapkan di atas, harusnya cukup dong buat bikin Inter juara ekspresi dominan ini?

Iya betul Mas, juara, tapi juara dua atau tiga di bawah Napoli atau Juventus.

Wah sialan lu, dasar PHP!”

Maaf mas, tapi saya kan daritadi cuma bahas skuad Inter, tidak membahas kedalaman skuad Juventus atau padunya chemistry skuad Napoli yang sudah bertahun-tahun main bareng.

Lagipula ya mas, kalaupun maksud saya Inter akan juara satu, alih-alih menulis kata “juara” di judul, saya akan menggantinya sebagai kata Scudetto. Tapi sayangnya, tampaknya kita juga harus puas dan bersyukur jikalau bisa finish di posisi dua atau tiga simpulan ekspresi dominan ini. Skuad ini berdasarkan prediksi saya akan menjadi sebuah pemuas dahaga yang tidak pernah kita rasakan selama tujuh ekspresi dominan ke belakang.

Jangan serius-serius mas. Berdoa mulai!

@AntonRijalFikar

sumber: https://calciobuzz.com/opinibuzzer-7-alasan-inter-akan-juara-musim-ini-versi-mas-anton/