Press "Enter" to skip to content

Terkini 27 Agustus 2010: Dikala Mbah Akal Mengingat Malam Sendu Internazionale Milano Di Monako

Musim 2009/2010 tentu takkan bisa dilupakan dengan gampang oleh pendukung setia Internazionale Milano, Interisti. Penyebabnya tak lain tak bukan yaitu pencapaian gemilang yang berhasil ditorehkan Javier Zanetti dan kawan-kawan di trend tersebut. Di bawah kode instruktur nyentrik asal Portugal, Jose Mourinho, Inter sukses menggondol gelar treble winners yakni titel Scudetto, Piala Italia, dan Liga Champions.

Sial bagi Inter, keberhasilan tersebut gagal membendung impian Mourinho untuk hijrah ke ibu kota Spanyol buat menukangi salah satu tim raksasa, Real Madrid. Keputusan instruktur berjuluk The Special One itu sendiri hingga membuat salah satu pemain senior Inter, Marco Materazzi, menangis tersedu-sedu.

Tak ingin membuang-buang waktu lebih lama, patron I Nerazzurri ketika itu, Massimo Moratti, lantas mendapuk lelaki asal Spanyol yang gres saja meninggalkan Liverpool, Rafael Benitez, sebagai instruktur anyar. Bermodal curriculum vitae yang cukup mentereng, salah satunya mengantar The Reds menjadi jawara Liga Champions trend 2004/2005, Moratti menaruh asa kepada Benitez supaya sanggup mempertahankan performa Inter di level tertinggi.

Bayangan bahwa Inter di tangan Benitez akan sama baiknya menyerupai dikala diasuh Mourinho menyeruak di benak Interisti. Terlebih, di tubruk debut resminya sebagai pelatih, laki-laki tambun yang dekat disapa Rafa ini sukses menghadiahi Zanetti dan kolega trofi Piala Super Italia sehabis mengandaskan AS Roma dengan skor 3-1.

Namun sayang, performa ciamik tersebut gagal diulangi oleh Benitez tatkala anak asuhnya harus berangkat ke Monako guna bersua Atletico Madrid di sebuah tubruk bertajuk final Piala Super Eropa. Inter dan Atletico berhak mentas di ajang ini karena keduanya yaitu kampiun pada dua kompetisi antarklub yang digarap asosiasi sepak bola Eropa (UEFA), Liga Champions dan Liga Europa.

Menyandang status sebagai klub terbaik di benua Eropa pada dikala itu, I Nerazzurri sedikit lebih diunggulkan ketimbang Los Rojiblancos. Keberadaan para pilar semacam Julio Cesar, Diego Milito, Walter Samuel, Wesley Sneijder dan tentu saja Zanetti, bikin kekuatan Inter tak banyak berubah.

Tapi hal tersebut rupa-rupanya tak membuat Sergio Aguero dan kawan-kawan yang membela panji Atletico merasa jeri. Mereka seolah ingin mengambarkan pada khalayak jikalau skuat Atletico wajib diwaspadai oleh setiap lawan.

Benar saja, tanpa banyak basa-basi, Atletico justru berhasil menyebarkan permainan semenjak sepak mula. Di sisi sebaliknya, Inter tampak masih kikuk dengan rujukan permainan yang dikembangkan Benitez.

Ketimbang Inter, Los Rojiblancos jauh lebih cerdik membuat peluang. Situasi ini juga yang membuat gawang Julio Cesar lebih sering terancam. Sementara David de Gea yang ketika itu mengisi pos di bawah mistar Atletico malah tampil santai.

Namun kesulitan yang dirasakan masing-masing kubu dalam memanfaatkan peluang yang mereka punyai sepanjang babak pertama, bikin papan skor tak berubah alias tetap 0-0 hingga 45 menit pertama berakhir.

Usai turun minum, baik Benitez maupun Quique Sanchez Flores (pelatih Atletico) melaksanakan sejumlah adaptasi demi membongkar pertahanan lawan dan mengubah arah pertandingan.

Berselang lima belas menit sesudah jeda, perubahan dan adaptasi yang dibentuk Sanchez Flores justru lebih terasa efeknya. Melalui sketsa kolaborasi satu-dua, Jose Antonio Reyes sukses memperdayai sejumlah pemain belakang I Nerazzurri untuk menceploskan bola ke gawang Julio Cesar dengan sepakan mendatar dari sudut sempit.

Setelah tertinggal, Inter lebih banyak mengambil inisiatif serangan untuk mencuri angka. Masuknya Goran Pandev menggantikan Dejan Stankovic seolah menawarkan niat Benitez supaya anak asuhnya tampil lebih ofensif. Tapi ketidakmampuan mereka mengkreasi peluang higienis membuat semuanya nirhasil.

Lebih nahas lagi, semua kegagalan Inter dalam misi mencuri gol dieksekusi dengan cara setimpal oleh Atletico. Tepat di menit ke-83, Aguero sukses meniru skor usai melanjutkan bola sodoran Simao Sabrosa dari sisi kanan pertahanan I Nerazzurri yang begitu gampang ditembus. Los Rojiblancos pun unggul 2-0.

Ketinggalan dua gol dan tubruk yang hanya menyisakan sedikit waktu membuat Inter tergopoh-gopoh. Di sisi lain, Atletico justru semakin memperkokoh pertahanan mereka dengan bermain menunggu dan hanya mengandalkan serangan balik.

Inter sejatinya menerima kesempatan untuk mencetak skor via titik putih di menit ke-89 sekaligus memperbesar asa mereka untuk mengejar. Namun Dewi Fortuna sama sekali tak berpihak kepada mereka alasannya yaitu sanksi Milito berhasil ditepis oleh De Gea.

Ketika wasit asal Swiss, Massimo Busacca, meniup peluit panjang tanda berakhirnya laga, para pemain, instruktur dan suporter Atletico pun bersorak gembira. Gelar Piala Super Eropa kala itu merupakan yang perdana bagi mereka.

Sebaliknya, wajah sendu terpancar terperinci dari seluruh elemen di badan Inter, baik pemain, pelatih, dan suporter mereka. Cita-cita menggapai Piala Super Eropa, juga untuk kali pertama di sepanjang sejarah klub, sirna begitu saja.

Malam itu juga menjadi sebuah titik awal di mana penurunan prestasi dialami Inter, salah satunya yaitu kehilangan titel Scudetto yang sebelumnya mereka menangkan lima kali berturut-turut. Walau pada bulan Desember 2010 dan Mei 2011 mereka sanggup merengkuh trofi Piala Dunia Antarklub serta Piala Italia, namun sesudah itu belum ada lagi silverware yang mampir untuk mengisi lemari trofi Inter, setidaknya hingga hari ini.

Author: Budi Windekind (@Windekind_Budi)
Interista gaek yang tak hanya menggemari sepak bola tapi juga american football, balap, basket hingga gulat profesional

source: http://football-tribe.com/indonesia/2017/08/27/malam-sendu-internazionale/